Selasa, 07 Februari 2017

Dita

banyak kata terwakili oleh senyuman
bermakna ketulusan,
kesiapan untuk berikan bantuan,
namun terkadang juga serupa harapan untuk dimengerti

saat harus menggunakan kata pun
kau memilih senyap sebagai latar
volume yang berbatas, memaksa kami perlahan mendekat
caramu indah membuat semua lebih personal

walau tenang, nyaris tanpa gelora
bahkan saat benturan keras datang pun tetap dengan senyuman
kau sejatinya bergerak cepat
kupu-kupu yang sigap terbang cepat, namun tetap anggun
tak goyangkan ujung daun.

kebersaaman di ruang kerja, yang tetap senyap
namun hangat dan dekat
kami pasti rindu.

Selamat berkarya di tempat baru, teman.

Waskon Empat Mampang Prapatan.
~Fant4stic~


Rabu, 10 Juni 2015

Bekerja sebagai ibadah

(Uraian atas kajian tarhib Ramadhan1436 H, di Masjid Al Hikmah KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan, ust. Kh. Anwar Nasihin, Lc)

Selalu ada harga yang dibayar atas sesuatu yang ingin diperoleh, baik dengan harta maupun jiwa, karena hidup ini perihal sebab akibat. Lelah atas apa yang diperjuangkan itu nikmat luar biasa, betapa banyak orang blm sadar bahwa kemuliaan tak dapat diraih melalui impian-impian dlm tidur. Bukankah jika tidak lelah, berarti tidak ada sesuatu yg kita perjuangkan?
Setidaknya terdapat 8 kelelahan yg disukai Allah SWT, yakni ;
1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya. (QS. At-Taubah : 111)
Jangan sempit dlm mengartikan jihad, sesungguhnya kesungguhan kita menjaga kehormatan bisa bernilai jihad. Menjaga kehormatan agama, nyawa, harta, keluarga, dan kemaluan. Kehormatan adalah salah satu bentuk ujian dan cobaan, Allah memberikan nikmat-Nya kpd umat manusia agar Dia bisa melihat siapa yg menerimanya dgn baik, lalu mensyukuri, menjaga, mengembangkan, serta mengambil dan memberi manfaat darinya. Sungguh kenikmatan merupakan tolok ukur, sejauh mana orang2 yg bersyukur mensyukurinya dan sejauh mana pula orang2 yg kufur mengingkarinya.
2. Lelah dlm berdakwah di jalan Allah. (QS. Fussilat : 33)
3. Lelah dlm beribadah dan beramal soleh. (QS. Al. Ankabut : 69)
4. Lelah mengandung, menyusui, merawat, dan mendidik anak. (QS. Luqman : 14)
5. Lelah dlm mengurus keluarga. (QS. At-Tahrim : 6)
6. Lelah dlm menuntut ilmu. (QS. Ali-Imran : 79)
Kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yg samar, menemukan sesuatu yg hilang, dan menyingkap yg tersembunyi. Alangkah mulianya ilmu pengetahuan. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yg menguasainya. Alangkah segarnya hati orang yg penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yg menguasainya.
7. Lelah dlm menghadapi cobaan/ musibah. (QS. Al-Baqarah : 155)
Ada hal-hal besar dalam setiap musibah yg menghampiri : ada kesabaran, ada takdir, ada pahala, ada tuntutan agar hamba menyadari bahwa Yang Mengambil adalah Yang Memberi, dan bahwa Yang Mencabut adalah Yang Menganugerahkan. Betapa banyak orang yg sudah putus asa namun kemudian datang kegembiraan, sungguh banyak orang ketakutan menjadi menakutkan dan peristiwa yang pahit berubah manis. Kesulitan2 itu sebenarnya akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menghancurkan rasa ujub,  dan menguburkan rasa sombong. Kesulitan2 akan menyalakan lentera dzikir dan meluruhkan kelalaian.
8. Lelah dlm mencari nafkah yg halal.
"Apabila telah dilaksanakan shalat, maka bertebaranlah kamu di bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah : 10)
Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Kewajiban seorang suami dan ayah adalah menafkahi, baik lahir maupun batin. Bekerja atau mencari rezeki yang halal merupakan ibadah. Rasulullah SAW menegaskan, bekerja untuk mencari nafkah merupakan kewajiban (fardlu). Alkisah, ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan salah seorang sahabatnya, Sa'ad bin Abi Waqqas. Ketika bersalaman, terasa oleh Rasulullah telapak tangan Sa'ad yang kasar, betapa tangannya kasar, kering dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannnya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah SAW serta merta mencium tangan Sa’ad dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan disentuh api neraka!” Masha Allah, betapa Islam sangat memuliakan orang2 yg bekerja keras.
Bagaimanakah Islam menggariskan teknis dalam bekerja? Diantaranya adalah ihsan dan itqan yang dapat disetarakan dengan istilah profesionalisme.
Allah telah menetapkan bahwa segala hal harus memiliki pondasi ihsan,
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan atas segala sesuatunya” (HR Muslim)
Dalam pekerjaan, ihsan berarti memenuhi hak pemberi kerja (perusahaan), pekerja (karyawan), rekan, pelanggan, serta para stakeholder lain sesuai bidang pekerjaan tersebut.
Anjuran berikutnya ialah itqan yang bahasa arabnya diartikan sebagai rapi dan paripurna dalam sesuatu yang memerlukan keahlian.
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta`ala mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqon dalam pekerjaannya” (HR Baihaqi)
Itqan dalam bekerja mengharuskan pelaksanaannya secara prosedural, proporsional, dan progresif. Pekerjaan harus dilakukan dengan benar dan disiplin menaati aturan serta tuntutan prosedur. Ia juga mesti dijalankan pada waktu yang seharusnya sesuai proporsi jam kerja dan tenggat tertentu. Kemudian tidak sekadar selesai, namun juga berupaya agar bisa mengembangkan pekerjaan, progresif untuk mencapai hasil dan nilai yang lebih baik dari tahapan ke tahapan; dari masa ke masa.
Teruslah berbuat baik, janganlah pernah merasa diri ini sudah cukup baik. Karena sesungguhnya hal itu hanya akan membuat diri membatasi dari perbuatan baik. Akan ada balasan dari setiap yg kita lakukan, Allah menjamin orang2 yg ihsan atas jannah yg demikian indah. Hal tersebut termaktub dlm QS. Yunus : 26 yang berbunyi "Bagi orang-orang yg berbuat baik, ada pahala yg terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tdk ditutupi debu hitam dan tdk (pula) dlm kehinaan. Mereka itulah penghuni surga,  mereka kekal di dalamnya."

Sekian.
Khairunnas anfa'uhum linnas. Semoga bermanfaat.

**Nuke Listiawati.

Kamis, 04 Juni 2015

jangan takut untuk mengaku takut

Terkadang dengan berdalih "dewasa" kita letakkan kata takut pada sisi negatif. Seperti enggan ditakut-takuti. Padahal ternyata takut akan dosa lalu masuk neraka itu yang membuat kita tetap beribadah dan jauhi sikap tercela. Takut pada hukuman juga yang memotifasi kita patuhi aturan. Demikian pula takut melukai hati orang lainlah yang membuat kita bersikap sopan dan lembut hati.

Kita butuh takut, untuk bertahan dalam kebaikan dan beranjak menjadi lebih baik.

Kamis, 29 Januari 2015

Seberapa pantaskah kita?

Bicara tentang remunerasi aku malah teringat nasehat seorang pak de sebelum aku menikah. Bahwa menikah itu jangan hanya bayangkan enaknya saja, karena enaknya itu bisa saja dirasakan tanpa menikah. Tapi yang penting tanggung jawab. Pernikahan itu rangkaian tanggung jawab. Nasehat itu masih teringat, karena menurutku saat itu kalimat inilah yang menyadarkanku. Bahwa selalu ada konsekuensi kewajiban selain dari hak yang akan kita dapatkan.

Demikian halnya, remunerasi. Ini bukan perkara tambahan atas hak kita saja, melainkan juga tambahan kewajiban. Yang meresahkan adalah bayangan bahwa kewajiban yang akan aku emban itu di atas kualifikasi sebagai pegawai. Ada kekhawatiran justru potensi kedholiman yang akan aku perbuat. Karena menerima yang tak seharusnya pantas menjadi hakku.

Mungkin seperti kata Mario Teguh, bahwa kita harus memantaskan diri untuk menjadi seorang yang menerima gaji yang lebih besar.

Entah, seberapa pantaskah kita?

Teman kita adalah....

Teman memang terasa saat ia bisa menjadi tempat bersandar, tempat curahan hati, atau saat ia mendukung apa yang kita lakukan. Terkadang kita merasa tak nyaman ketika seorang teman justru mengkritik kita, menegur kesalahan kita, meluruskan kita saat kita bengkok. Padahal sejatinya mengkritik, menegur, dan meluruskan itu yang lebih kita butuhkan dari seorang teman.

Mungkin karena teman itu cermin. Tempat kita mampu melihat diri kita di sisi yang tak terlihat oleh kita. Kita butuh teman sebagai mata kita yang lain, sebagai telinga kita yang lain. Ia menjadi seorang yang segera memegang lengan kita erat saat kita nyaris tergelincir ke dalam jurang. Kita memang butuh teman.

Saat tak ada teman mungkin sudah lama kita tersesat. Atau terpeleset ke dalam jurang dan tak bisa bangkit lagi. Walaupun terkadang ia hanya mengingatkan apa yang pernah terucap oleh kita namun kita lupakan. Terkadang hanya mendelik sampaikan sinyal ketidaksetujuan. Terkadang juga hanya sampaikan ketidaknyamanannya atas apa yang kita lakukan. Dan ternyata semua itu menyelamatkan kita.

Teman adalah pengkritik kita, adalah cermin kita, adalah penyelamat kita.

Terima kasih teman.

Minggu, 25 Januari 2015

Reputasi?

Reputasi
Citra
Nama baik.....

Adakah kemasan kita mendustai isinya?

Harga diri
Menghargai diri
Menghargai diri terlalu tinggi

Pantaskah kita mudah tersinggung dan sakit hati..?

Karakter
Niat baik
Nilai sejati diri

Kelam atau mempesonakah kita jika tanpa polesan?



Minggu, 11 Januari 2015

Saat 25 tahunku, dulu....

Seorang bertanya padaku seperti apa diriku di umur 25 tahun? Lalu yang teringat adalah masa-masa sulit bertahan dalam idealisme sedang kondisi kerja tidak mendukung.

Apa yang membuatku tetap bertahan pada waktu itu?

1. Ajaran keluarga untuk tidak memandang hidup dengan ukuran-ukuran materi. Sejak kecil kami tak boleh merasa miskin dalam kondisi apapun.

2. Ajaran Bapak "Jangan sampai ada hak orang lain yang terambil oleh kita, sebaliknya jika ada hak kita di tangan orang lain maka segera ikhlaskan." Pernah suatu hari, saat aku masih SMP dan ikut Bapak ke Jakarta, demi mengembalikan kelebihan uang kembalian di sebuah warung, kami harus berjalan kaki jauh mencari warung tersebut.

3. Buku-buku sosialis yang dulu gemar aku baca membuat aku berjarak dengan dunia gemerlap yang menurutku waktu itu adalah produk kapitalisme. Pernah sangat risih saat berjalan di trotoar di depan pertokoan, dan memilih berjalan memutar mencari gang-gang sempit.

4. Sejak kecil tak pernah bercita cita jadi orang kaya. Karena kaya itu hanya akibat dari sebab kerja. Jika karena kerja lalu kaya ya terima saja, Alhamdulillah.

5. Di kantor bertemu teman-teman aktifis dakwah birokrasi yang sangat menjaga diri dari uang-uang kotor itu.

Mungkin karena hal-hal tersebut di atas, aku terjaga untuk bertahan di jaman itu.

Wallohu a'lam.

Kamis, 08 Januari 2015

BIASA VS LUAR BIASA

Biasa itu jauh lebih hebat dibanding luar biasa. Karena luar biasa itu hanya sesaat, sementara biasa itu konsisten, rutin dan tentu butuh daya tahan yang lebih tinggi dari sekedar yang luar biasa.

Percakapan dengan seorang teman yang mengaku suaminya itu lelaki biasa yang nampak tak romantis, tidak suka memberi hadiah saat ulang tahun. Kata dia suaminya hanya biasa menyuapinya saat ia makan. Walau hanya tiga atau empat sendok pasti ia luangkan untuk menyuapi istrinya saat makan bersama. Aku sampaikan itu berarti luar biasa, tapi sang istri menyangkal bahwa itu bukan luar biasa, itu biasa menurut dia. Karena memang hal luar biasa itu memang akan biasa saat dibiasakan.

Jadi benarkan, menjadi biasa itu lebih hebat dibanding sekedar luar biasa.

Benarlah memang, "Sebaik baik amalan adalah yang terus menerus meski sedikit."

Demikianlah.

Rabu, 07 Januari 2015

KITA DIBUAT BERHASIL

Acara khatmul Quran - mengkhatamkan al Quran dalam satu hari, diadakan di masjid kantor KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan dalam rangka Tasyakuran Tercapainya Target kantor, semangatnya adalah menambahkan satu kata dalam kalimat berita tentang sebuah kesuksesan. Demikian yang disampaikan bapak Kepala Kantor saat memberikan sambutan. Tambahan kata itu adalah: "dibuat". Kalimat awalnya "kita berhasil" menjadi "kita dibuat berhasil". Ialah bagaimana kita selalu melibatkan Dia dalam setiap urusan kita.

Lalu mengapa acaranya khatmul Quran? Banyak alasan namun paling tidak ini cara kita sebagai hamba mendekatiNya, dengan berakrab akrab dengan firmanNya.

Kami mengundang enam hafidz Quran, mereka melafalkan hafalan Qurannya dari Al Fatihah hingga surat An Nas. Kami bersama menyimak. Susanannya indah. Kami menikmati lantunan ayat-ayatNya dipimpin oleh hafidz yang menurutku menakjubkan. Saat melantunkannya mereka terlihat sangat menikmati. Terkadang mereka ekspresikan dengan gerakan tangan atau menggoyang goyangkan kepala.

Kami pikir kami akan kelelahan duduk berjam-jam menyimak mereka, ternyata tidak. Quran memang energi. Semakin lama kami semakin menikmati. Indahnya suasananya.

Kami mulai pukul 08.30 pagi, dan selesai pukul 00.04. Tidaklah waktu yang sebentar. Lelah memang namun kami merasa lebih berenergi. Semoga ini bisa menjadi energi kami di sepanjang tahun ini. Energi kami untuk menjadi hamba yang taat, menjadi khalifah yang amanah di bumi ini.

Aamiin.

Pengakuan atas kesalahan

Tadi setelah ashar secara rutin ada pembacaan hadits Riyadhus Shalihin. Hari ini sampai pada hadits tentang kisah Kaab bin Malik. Sahabat yang menyengaja tidak berangkat dalam ekspedisi perang Tabuk. Sahabat yang tidak mau mencari cari alasan namun dengan lugas mengakui kesalahannya. Dia dihukum dikucilkan selama 50 hari. Hukuman yang berat, namun ia terima. Kisah ini bahkan diabadikan dalam Al Quran.

Pelajarannya adalah tentang kejujuran. Keberanian untuk melakukan pengakuan. Dan kesiapan hati menjalani hukuman karena didasari kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan. Hasilnya tobat yang diterima tidak semata mata meringankan hati melainkan juga menjadi energi untuk perbaikan dan pengembangan diri terus menerus.

Demikianlah energi pengakuan, energi keterusterangan. Teringat nasehat ibu dulu, jangan lari dari akibat yang sebabnya telah kita lakukan.



Kamis, 27 November 2014

Untuk Kantorku.

Sejarah memang tak mencatat semua pelaku sejarahnya, karena yang tercatat hanya mereka yang terhubung langsung dengan peristiwa-peristiwa besar saja. Namun jika kita paksa lebih detail lensa kamera kita, zoom in ke beberapa peristiwa besar lalu perhatikan lebih dekat, akan kita temukan banyak orang-orang hebat yang ikut terlibat dalam fragmen peristiwa-peristiwa sejarah itu.

Bagaimana dengan kita? Yang kita jalani hari ini tentu nanti akan menjadi sejarah bagi anak keturunan kita. Walau belum tentu sejarah itu tercatat, karena seperti di awal tadi, bahwa sejarah hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar saja. Tidaklah penting dicatat atau tidaknya, namun yang menjadi penting untuk kita adalah seberapa peran kita dalam bangunan sejarah itu, ini akan menjadi ukuran kualitas seseorang, karena sebaik-baik seseorang itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Apakah kita sudah cukup bermanfaat?

Tempat kerja kita adalah kolam jika kita jadi ikan. Kita nyaman jika air kolam tetap jernih. Apa peran kita dalam menjaga suasana  kerja di kantor kita?

Membangun saluran-saluran komunikasi adalah salah satu pilar dari bangunan kenyamanan itu. Saluran komunikasi itu harus memadai untuk menampung isi hati para penghuninya. Dan saluran itu memang tak bisa dipaksakan dalam satu saluran saja. Karena setiap kita di usia matang tentu sudah memiliki banyak pengalaman-pengalaman yang mengendap menjadi keyakinan. Seberapa besar cawan hati kita untuk menampung beda itu pun tetap saja ada kemungkinan benturan. Walau demikian, idealnya memang, ada satu kanal besar yang menampung selokan-selokan kecil itu. Sehingga obrolan-obrolan yang terbangun secara informal itu bisa tetap rapi terstruktur. Sehingga aliran sederas apapun tak harus ciptakan gelombang yang menampar kanan dan kiri.

Demikianlah, setiap hari masih saja berusaha menjawab pertanyaan: apa peran aku dalam membangun suasana nyaman di kantorku.

Wallohu a'lam.

Sabtu, 08 November 2014

Bergerak Lebih Cepat

Dalam olah raga, bergerak lebih cepat selalu saja menguntungkan. Mungkin demikian juga dalam mengambil keputusan, semakin cepat berfikir akan semakin baik. Cepat kumpulkan data, lebih banyak siapkan alternatif, buat lebih banyak pilihan, pastilah keputusan yang diambil akan lebih berkualitas.

Teringat dulu, saat di sekolah ada teman yang terlihat malas belajar, namun selalu hebat dalam nilai akademis. Setelah mengenal lebih dekat, ternyata dia seorang yang rajin berfikir. Walau sambil nongkrong, ngopi, bahkan terkadang merokok, dia selalu sibuk menganalisa banyak hal. Bahkan gaya guru mengajar pun dia sudah terekam dalam ingatan secara gamblang. Pernah saat duduk di sebelahnya, di kelas, saat guru sampaikan materi, dia mencoret-coret di bukunya, aku lirik... ternyata dia sudah membuat soal latihan. Saat itu aku ambil kesimpulan, cerdas itu pasti tekun dan giat belajar. Walau belajarnya hanya dalam pikiran, dan secara fisik dia terlihat santai.

Dalam catur pun begitu, pecatur yg hebat, telah menyiapkan semua kemungkinan dari langkah sang lawan. Juga para petarung, setiap jurus selalu bersiap sambut jurus yang lain. Dan demikianlah idealnya saat mengambil keputusan, banyaknya data akan sangat mendukung. Dan tentu daya khayal kita yang mendukung untuk mengembangkan analisa atas data yang kita punya.

Sabtu, 01 November 2014

Mencari kesalahan diri.

"Jangan cari-cari salah dan aib orang lain, seringlah mencari salah dan aib diri sendiri... mudah-mudahan dengan begitu tidak akan ada waktu mencari salah dan aib orang lain..." kalimat mas Feri Susanto, pada suatu hari di MP FM. Mungkin hanya kalimat biasa, dan sudah juga sering kita dengar dari orang lain, tapi aku merasa perlu menyimpan kalimat ini sebagai pengingat buatku. Karena memang benar, kata pribahasa "Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di ujung lautan nampak."

Waktu yang kita miliki itu sudah jelas. 24 jam. Sama dengan yang dimiliki oleh penduduk dunia lainnya. Waktu seolah gelas, yang tak bisa memuat melebihi batas kapasitasnya. Jika penuh akan meluap. Jika waktu diisi dengan kesia-siaan maka pasti kemanfaatannya tak punya tempat. Demikian sebaliknya. Seperti kesibukan mencari kesalahan orang lain pastilah akan membuat kita tak punya waktu cukup untuk mencari kesalahan diri sendiri. Demikian sebaliknya.

Dalam kaca mata agama, istighfar membuka pintu-pintu solusi atas banyak masalah. Bahkan untuk mendapatkan keturunan pun ada nasehat dengan perbanyak istighfar. Istighfar adalah permohonan ampunan. Dan permohonan ampunan dimulai dengan kesadaran atas kesalahan diri. Artinya Tuhan mengingatkan bahwa mulai dari kesadaran akan kesalahn diri itu lah pintu solusi akan terbuka. Akan berbeda jika kita sibuk menyalahkan orang lain, kita justru akan semakin terpuruk dalam belukar masalah.

Rabu, 29 Oktober 2014

tentang uang (catatan di hari Oeang)

Di Hari Oeang, aku ingin menulis tentang uang. Betapa uang telah mengambil peran penting dalam kehidupan manusia. Awalnya hanya alat tukar untuk berinteraksi dalam menyelesaikan kebutuhannya. Namun perlahan, menjadi lebih dari sekedar media. Uang bisa menjadi motivasi, menjadi alasan seorang mau berlelah-lelah, bahkan pertaruhkan nyawa. Manusia terkadang lupa, uang hanya salah satu alat untuk penyelesaian kebutuhan. Bukan bagian dari kebutuhan kita. Kita butuh makan, untuk mendapatkan makan kita harus beli, untuk beli kita perlu uang. Entahlah.

Satu hal yang sering tidak berhasil aku pahami adalah perasaan kecewa dan sedih saat kita kehilangan uang, terkadang kita merasa sangat terpukul. Seakan musibah besar menimpa. Padahal bisa jadi, tanpa uang kebutuhan kita tetap dapat terpenuhi. Protes kita mungkin begini: bisa jadi kan? Bisa jadi sebaliknya. Hehe... padahal dengan uang pun tak ada jaminan kebutuhan itu terpenuhi. Sama saja.

Bukankah kita bisa membeli makanan, tapi tak bisa membeli rasa kenyang, bisa membeli tempat tidur tapi tak bisa membeli nyenyaknya tidur.

Ada fragmen yang juga belum berhasil aku pahami, saat seorang peserta kuis, pada satu babak dia menang dan mendapat hadiah sekian rupiah, uang itu belum diberikan, hanya disebutkan. Lalu pembawa acara menantang sang peserta, mau lanjut ke babak berikutnya? Tapi hadiah di babak pertama dipertaruhkan. Kadang peserta ragu, terkadang juga yakin untuk maju. Pernah peserta nekat lanjut dengan pertaruhkan seluruh hadiah, ternyata kalah. Ia sangat menyesal. Menurutku ini aneh. Hadiah belum diterima, tapi peserta menyesal saat tak jadi diterima. Padahal saat datang ke kuis dia tak bawa apa-apa, jadi wajar saja jika pulang tak bawa apa apa. Atau jika akhirnya dapat tapi hanya sebagian, karena sebagian lain hilang saat dipertaruhkan mestinya dia bahagia, namun terkadang tetap menyesal karena tak dapat lebih banyak.

Mungkin ini memang tentang rasa ingin. Keinginan terkadang jadi sumber penderitaan (kata mas Iwan Fals). Bisa jadi, derita itu karena kita menarik terlalu cepat sesuatu itu menjadi milik kita, sehingga saat hilang kita terluka. Bahkan sesekali kita terjebak pada kehilangan atas sesuatu yang tidak kita miliki.

Demikian halnya uang, sesuatu yang ada hanya karena saat transaksi pertukaran barang dan jasa kita butuh media. Itu saja. Karenanya tak pantaslah uang menjajah terlalu dalam, hingga menguasai rasa bahagia kita.

Entahlah.

Rabu, 22 Oktober 2014

Sekapur Barus.

Tak mudah mencatat perbincangan di meja kopi pagi ini. Tema perbincangan melompat-lompat ke sana ke mari. Untuk menangkapnya aku harus ikut melompat-lompat. Dari rongga kepalaku ke rongga kepala teman-teman, terbang ke langit, lalu menclok di atap kantor, kemudian meluncur bergulingan di atap-atap mobil yang parkir di halaman. Akhirnya mencebur ke cangkir kopi. Berenang di sana.

Memikirkan seseorang teman sambil berkendara sepeda motor saat berangkat kantor, adalah membawa ia dalam alam kita. Mengajak ia berdiri di speedometer, mejadi boneka kecil. Lalu duduk di sana, terkadang berjalan dari titik angka 0 ke angka 110, sesekali menarik jarum jam dalam speedometer itu melampaui kecepatan yang sebenarnya. Ahai.... juga seperti saat dua butir kapur barus itu, masuk ke dalam tanki bensin, untuk meningkatkan oktan. Entah benar atau tidak. Katanya bisa meningkatkan kecepatan motor kita. (Atau merusak speedometer kita, hehe).

Jadi teringat Dayang Sumbi yang halangi Sangkuriang saat penuhi permintaannya sebagai syarat memperistrinya... dengan memukul lesung, mengundang fajar lebih cepat datang. Apakah matahari menjadi lebih cepat, atau hanya unggas sebagai tanda-tanda pagi itu yang lebih awal bernyanyi? Gerakan Matahari itu serupa kecepatan motor kita, dan unggas seolah speedometer itu. Kita sering terjebak pada kerancuan berfikir antara yang diukur dan dasar ukuran. Entahlah.

Memang tak mudah, mencatat tema percakapan yang berlarian tanpa rima dan tujuan.

**bincang di warung Lala

Kamis, 16 Oktober 2014

MEMILIH UNTUK BERARTI

Film pendek yang mengambil latar kehidupan tiga pegawai negeri sipil ini memang sederhana, tapi cukup menarik untuk dilirik.  Alur cerita mengalir dengan cepat seperti memaksa kita untuk menunda mengedipkan mata sejenak.

Dian yang kesehariannya harus melewati fasilitas jalan yang tidak nyaman dan penuh tantangan, ditengah kemajuan pembangunan (katanya). Maman yang harus menggelengkan kepala saat melihat seorang anak yang seharusnya menikmati bangku sekolah,  tetapi harus mengamen demi kelanjutan hidupnya. Serta Dika yang melihat kenyataan bahwa sejumlah pemuda di sekitar lingkungannya menganggur karena tidak tersedianya lapangan kerja bagi mereka. Tiga kisah ini menjadi pecahan yang menghantarkan kita pada kejadian-kejadian kecil yang nyaris tidak berhubungan satu sama lain dalam waktu enam menit.

Dalam alur yang singkat, ketiga tokoh ini digiring kepada kondisi yang berat bagi mereka. Tawaran yang menggiurkan dan dengan sedikit menutup telinga hati nurani, mereka bertiga mungkin akan sampai pada kenyamanan diri sendiri. Tapi tunggu dulu, apakah itu pilihan mereka? Tentu tidak, dengan harapan bahwa ada perubahan ke arah yang lebih baik dari setiap pilihan yang mereka ambil, Dian, Maman dan Dika dengan tegas menolak setiap tawaran tersebut.

Film Sebelum Habis ini ingin menarik kita sesaat, kembali kepada sejumlah kenyataan yang terpapar di depan mata. Dan tanpa kesan menghakimi, film ini mencoba memperlihatkan bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan dapat berdampak besar pada sisi kehidupan lain. Dian, Maman maupun Dika memilih untuk berjarak pada korupsi karena dengan cara itu mereka memberi harap pada negeri. Bagaimana dengan pilihan Anda?

Resensi Film "Sebelum Habis" oleh Boy Valentin Purba.

Sebelum Habis (narasi untuk Film Hari Anti Korupsi 2014 - KPP Pratama Mampang Prapatan)


Waktu berjalan,
seolah detik-detik yang berguguran
tanpa pernah kita bisa memungutinya kembali

banyak hal yang tidak kita harapkan, namun ada di depan mata
tak semua menemui pintu kesempatan yang terbuka….
Terkadang harus berani mengetuknya,
Terkadang harus rela menunggu.

Pada saatnya arus hidup itu
akan membentur karang…
dan kita harus memilih

Jika tak pedulikan bisikan hati,
mungkin kita akan terbanting dalam sesal di kemudian hari…

pilihan itu akan tertulis dalam dinding sejarah kita
catatan yang melegakan hati
catatan yang akan kita syukuri.

Karena kata “tidak” bisa mengubah arah kenyataan
Kenyataan sebagai bangsa yang bangga
Bahwa jujur masih bisa hidup subur….

Di negeri ini.

Minggu, 24 Agustus 2014

Opera Van Jampang (bahan Skenario untuk malam Keakraban ICV di KPP Pratama Mampang Prapatan)

Sinden (Dian dan Mirtha) nyanyikan satu lagu.
Iringan gitar. Lagu gaya sinden gitu deh.

Dalang Muncul, membacakan judul lakon malam ini….
 “ Putri Salju dan 7 Kurcaci”

Pada jaman dulu,di sebuah Kerajaan di negeri dongeng hiduplah seorang ratu yang cantik, namun kecantikan wajahnya tidak diikuti dengan kecantikan hatinya. Sang ratu memiliki seorang anak tiri yang telah beranjak dewasa, wajahnya yang cantik dan budi pekertinya yang luhur membuat banyak orang menaruh simpatik padanya ,tapi tidak bagi sang ratu,yang mempunyai sebuah cermin ajaib ini.

Pada suatu hari seperti biasanya yang sudah menjadi kegiatan rutin sang ratu yaitu selalu bersolek dan berkaca mengagumi akan kecantikannya yang konon tak ada yang menyaingi di seluruh negeri. Sang permaisuri pun bertanya pada cermin ajaibnya yang selalu menjadi rujukan, juga selalu berkata jujur.




Permaisuri            : cermin ajaib siapa yang tercantik di seluruh pelosok negeri ini?
Cermin ajaib        : putri salju la yah.
Permaisuri            :apa(sedikit kaget)putri salju.!!!!!

Karena merasa kurang yakin permaisuri pun bertanya kembali pada cermin,siapa tahu cermin itu hanya sekedar bercanda atau berbohong padanya.

Permaisuri            :cermin ajaib tolong katakan sekali lagi siapa yang tercantik di negeri ini?
Cermin ajaib        :putri salju,putri salju,please dech cin.jawab cermin
Permaisuri            :apa??(dengan mata melotot)Putri Salju….oh my good

Untuk ketiga kalinya permaisuri bertanya kembali pada cermin ajaib,kali ini dengan emosi yang sudah meluap-luap(kalau buat masak telor langsung matang kalee)

Permaisuri:cermin ajaib,siapa yang terncantik di negeri ini,ceeeeeeepat katakan padaku?

Cermin ajaib:berhubung anda telah tiga kali memangil daku,maka selamat anda mendapatkan satu buah payung cantik dan jawabanya adalah Putri Salju,teetep.

Mendengar jawaban itu dirinya serasa di sambar petir di siang hari,mata berkunang-kunang,badan gemetar, darah naik Sembilan puluh derajat, muka pucat pasi, mata melotot, keluar keringat dingin, susah buang air besar, tenggorokan gatal, makan tak enak, tidur tak lelap, encok,kesemutan, hidung tersumbat (banyak amat boo).dan dengan sangat marah yang sudah tak tertahankan dia pun melempar meja rias (kuat amat)ke arah cermin dan tepat mengenai sasaran,cermin ajaib pun pecah berkeping-keping.lalu dengan lantangnya permaisuri pun berkata,“Putri Salju,Tunggu pembalasanku” dengan tawa yang menggelegar(kayak mak lampir aja)

Akhirnya Sang Ratu mengusir Putri Salju. Dengan berat hati putri salju pun meninggalkan istana yang sangat di cintainya.meninggalkan semua orang-orang yang di kasihi untuk jangka waktu yang tidak bisa di tentukan. Dengan langkah yang gontai dia pun mengikuti ke mana langkah kakiberjalan.hari berganti hari,bulan berganti bulan,tujuh sumur telah di datangi, lautan di seberangi, gunung pun di daki.di tepi hutan dia pun beristirahat untuk menghilangkan lelah sambil Bernyanyi.

Lagu yang cocok… mbak Sinden yang pilih yaa

Tampak lah dari kejauhan sebuah rumah yang kecil mungil,dia lalu mendekati rumah tersebut untuk sekedar meminta seteguk air kalau bisa sama makannya juga(ngarep).setelah di ketuk-ketuk tapi tak ada yang membukan,sang putri pun memberanikan diri masuk ke rumah mungil yang tak terkunci itu.setelah mengamati seluruh isi ruangan ada yang terasa aneh dalam hatinya karena mulai dari tempat tidur, meja, kursi semuanya berukuran mini(kecil) dan semuanya sangat berantakan bagaikan kapal pecah dalam rumah itu.dengan penuh rasa cinta dia pun membersihkan semuanya,mulai dari merapikan tempat tidur,kursi,meja hingga menyapu halaman.setelah beres semuanya putri salju mulai memasak dengan bahan-bahan yang tersedia.Sang putri pun sangat menyukai film-film Bollywood, susah senang, gembira, sedih selalu bernyanyi apalagi di tempat itu banyak pohon dan bunga pas seperti suasana di India.

“masak-masak sendiri
Makan-makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidur pun sendiri
Cinta aku tak punya
Kekasih pun tiada
Semuanya telah pergi
Tak tahu ke mana

Lagi asyik bernyanyi tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar dan datanglah segerombolan orang anak bertubuh tidak kecil mungil (kurcaci) semuanya berjumlah 7 orang memasuki rumah itu. Mau tahu siapa saja kurcaci itu??
Mereka adalah:

Kurcaci Painem, tegas dan cerdas
Kurcaci Toti, asyek dan pandai bernyanyi
Kurcaci Helm, tenang dan ramah
Kurcaci Syam, kekar dan hangat
Kurcaci Seret, rapi dan oke
Kurcaci Djono, hati2 dan berwibawa….
Kurcaci Aris, renyah dan meriah

Mereka semua kaget karena rumah sudah dalam keadaan bersih dan tertata rapi.kurcaci itu lalu menuju dapur dan mendapati seorang gadis yang sedang memasak.

Kurcaci Painem: hey kamu siapa,dan apa yang kamu lakukan di rumah kami?
Putri salju              : nama daku putri salju,tadi aku sudah ketuk pintu tapi tak ada orang,jadi daku masuk,maaf yah
Kurcaci Toti           : mengapa kamu bisa sampai ke hutan ini?
Putri salju              : daku di usir oleh ibu tiriku dan sekarang daku gak punya tempat tinggal,sambil menangis
Kurcaci Helm       :sudahlah putri salju jangan terlalu banyak di pikirkan,kamu boleh kok tinggal di tempat kami
Putri salju              :benarkah itu semua(tak percaya)yang kau katakan sahabatku?

Kurcaci 4,5,6,7:benar putri yang cantiiiiiiiiik
Putri salju              : terima kasih teman-teman, daku jadi malu.oh yukk kita makan sama-sama daku sudah buatkan makanan special ala chef farah,tapi bukan farah queen tapi parah banget. He he.

Mereka pun makan dengan lahapnya.dan semenjak itu tinggalah putri salju di hutan bersama dengan teman-teman barunya.suasana hutan yang dulunya sunyi senyap kini telah berubah ramai atas kehadiran sang putri.dan pada malam-malam tertentu sang putri, tak segan-segan menghibur dengan suara emasnya dengan mengadakan konser yang bertajuk”satu jam bersama putri salju”acaranya pun selalu terbilang sukses tanpa ada kerusuhan.

Lain di hutan lain di istana tampak sang permaisuri sedang uring-uringan ,bolak-balik kayak setrikaan belum panas.beberapa hari ini sang permaisuri memang selalu browsing di internet dengan laptop Acer miliknya yang di beli di Uni Emirat Arab.di salah satu situs menyebutkan ada seorang gadis yang tinggal di sebuah hutan,gadis itu bernama putri salju,di situs itu juga menyebutkan kalau gadis itu merupakan gadis tercantik versi majalah People,terbitan amerika.inilah yang membuat hati sang permaisuri selalu gundah gulana takut tersaingi.dengan akal jahatnya sang permaisuri pun menyusun rencana.

Pagi itu seperti biasanya di hutan semua orang telah melakukan aktifitasnya masing-masing.para kurcaci pun telah pergi untuk mencari makanan dan kayu bakar untuk keperluan sehari-hari di dalam hutan.di rumah tampaklah putri salju yang sedang menyapu.sedang asyik menyapu tiba -tiba di kejutkan oleh suara parau dan serak.

Nenek                    :cucuku yang cantik kemari nak,sang nenek berkata
Putri salju              :nenek panggil saya,
Nenek                    :iya cah ayu(oon banget,dalam hati)ayo nak kemari
Putri salju              :ada apa nek?nenek haus,saya ambilkan minum ya,tunggu sebentar ya nek
Nenek                    :nehi,nehi,tidak-tidak nenek tidak haus,secara gitu loch
Putri salju              :lantas nenek mau apa?
Nenek                    :nenek hanya mau memberikan buah apel ini untukmu macan(manis dan cantik)
Putri salju              :tapi nek ini kan apel harganya mahal loch
Nenek                    :jangan pikirkan soal harga ,yang pentingkan kualitasnya nenek berpromosi
Putri salju              :tapi nek?????
Nenek                    :jangan banyak tapi-tapian cucuku ,nenek ikhlas kok memberikannya untukmu dan kalau kau makan buah ini kecantikanmu sama dengan Princes Syahrini.
Putri salju              :Syahrini nek?
Nenek                    :bukan Zamroniiii… he he
Putri salju              :ahh nenek bisa aja,ngelawaknya.tapi nek
Nenek                    :iya dong nenek kan mantan anggota srimulat,udah ambil aja.
Putri salju              :terima kasih nek,
Nenek                    :iya cucu ku sama-sama,dah nenek pergi dulu yah,jumpa lagi…

Setelah memberikan buah apel tersebut sang nenek misterius itu pun meninggalkan putri salju. Saat Putri Salju hendak makan apel itu, tiba2 Juliet datang, dan mencegahnya….

Juliet                      : Tunggu….. tahukah kamu siapah nenek itu, darimana ia berasal, apakah dia nenek pada umumnya, atau hanya sekedar ingin mencari sensasi, popularitas, mau tau jawabanya? jawabanya dia adalah ibu tiri putri salju yang menyamar menjadi seorang nenek tua dan apel yang di berikan untuk putri salju adalah apel yang telah di beri racun.
Putri Salju             : lho kamu siapa? Kok tiba2 datang… menyelamatkanku dari apel beracun itu???
Juliet                      : Menyelamatkanmu? Bukaaan… aku justru mau minta apel itu. Kenalkan… aku Juliet… pasangan Romeo di panggung sebelah….
Putri Salju             : lho kok ke sini? Salah kamar dong? Di sini kan panggung Putri Salju dan kurcaci….
Juliet                      : biarin. Aku bosen. Dari dulu kok pasangannya sama Romeo mulu. Bosen tauk! Pingin yang lain… makanya aku minta apelnya dong. Kita bagi dua deh…

Akhirnya Juliet dan putri salju makan apel tersebut, lalu berdua pingsan seketika dan tak bangun-bangun lagi. para kurcaci yang melihat kejadian itu langsung menangis histeris dan tak tau apa yang harus di lakukanya.akhirnya para kurcaci memutuskan untuk memanggil dukun atau pun paranormal seperti ki joko bodo atau pun ki kusumo untuk menyadarkan kembali sang putri.baik.ki kusumo atau pun ki joko bodo tak bisa berbuat banyak,yang bisa menghidupkan sang putri adalah ciuman dari seorang pangeran yang baik hati,rajin menabung,dan tidak sombong.

Singkat cerita

Pada suatu hari ada seorang pangeran Hero bersama Hulubalang Imam yang tidak biasa yang tersesat dalam hutan tersebut.dan dia pun menemukan rumah kurcaci dan melihat dua orang gadis cantik dalam peti yang di taburi bunga aneka warna yang wangi semerbak sepanjang hari. Sang kurcaci pun bercerita kalau gadis itu bernama putri salju.dia terkena sihir jahat, sang putri baru bisa hidup kembali apabila ada seorang pangeran yang menciumnya. Namun sang pangeran enggan menciumnya…. Sang Pangeran malah miscall tuan puteri… Karena ring tone HP Puteri Salju kenceng dan norak, ia pun segera terbangun dan semuanya bersorak gembira.

Putri Salju             : Terima kasih pangeran… siapakah sebenarnya pangeran ini??
Pangeran Hero    : aku penguasa wilayah Mamprang Papatan di lereng tugu pancoran…
Putri Salju             : oh… pangeran datang untuk membawaku pergi?
Pangeran Hero    : iya. Karena aku butuh Kasi pelayanan di wilyah kerjaku… hayuk buruan, masih banyak SPT yang belum selesai diteliti.

 Pangeran dan putri salju beserta para kurcaci pun pergi beriringan….

Bagaimana nasib Juliet??? Seorang yang salah masuk panggung itu masih tertidur sendirian di sana, hingga akhirnya…. Hulubalang Imam yang tidak biasa sang pendamping pangeran Hero itu  mendekati Juliet…

Imam yang tidak biasa                      : Juliet…. Bangun… mau pulang ke bogor bareng nggak??

Bersama Risa, pak Imam dan bu Juli berangkat pulang ke Bogor. 

Demikianlah akhir cerita hari ini, sampai ketemu di dongeng selanjutnya.

Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa. Ketemu lagi di Opera Van Jampang... Yaa... Eeee...!


Sinden kembali menyanyi….

Teman Kantor

Teman kantor,
Tersebab ada kata kantor
Mereka merasai teman kantor
bukan teman.
"Oh itu temanmu?"
"Bukan, dia itu teman kantor"

Tersebab ada kata kantor,
Mereka terdidik membuat jeruji formal
Kecintaan, kasih, sayang, persaudaraan
Tersekat, kerdil dan kering
"Oh itu temanmu?"
"Bukan, dia itu teman kantor"

Padahal setiap hari kita berbagi udara
Padahal setiap hari kita berbagi nafas
Bekas nafasmu aku hirup,
Bekas nafasku kamu hirup

Kita duduk berhadapan, kita duduk berdampingan
Kita hidup dalam satu ruangan, satu gedung... KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan.

Setiap hari kita berbagi nafas
Bekas nafasmu aku hirup, bekas nafasku kamu hirup.
"Oh itu temanmu?"
"Bukan, dia itu Saudaraku"
Di kantor setiap hari kami berbagi.

Puisi karya Bapak Heru Narwanta,
Kepala kantor kami, ayah kami, Saudara kami.
Dibacakan saat malam keakraban, dalam ICV Kemenkeu 2014 di Caringin, 22-23 Agustus 2014

Kamis, 14 Agustus 2014

Pengubah atau Terubah

Dulu sering nggaya dengan sesumbar bahwa "lingkungan itu gue yang bikin" saat masuk dalam lingkungan baru, ternyata butuh banyak energi dan strategi untuk beradaptasi.

Kuncinya memang kemampuan dan kemauan untuk terus belajar. Jika berfikir bahwa lingkungan ini tidak ideal,  maka mestinya kita segera susun strategi untuk lakukan perubahan.

Salah satu jurus perubahan itu adalah menggunakan riak-riak kecil untuk memancing gelombang. Riak-riak kecil itu bisa saja serupa bongkahan batu bata pada dinding bangunan suasana yang kita inginkan. Setiap riak-riak kecil itu kita lekatkan sesuai pola besar yang telah kita tetapkan untuk membangun gelombang perubahan yang lebih dahsyat.

Entahlah....