Senin, 02 September 2019

Bang Jampang

ia pengembara di lini masa peran dan fungsi
berkibaran awan mengiringi
jabatan demi jabatan datang dan pergi
hanya sisa tanya di akhirnya, jejak apa terukirkan?

ia memulai semua dari kata nyaman
kantor adalah rumahmu jua
jika teras rumahmu nyaman untuk nikmati kopimu, maka kantor pun mestinya begitu
jika meja makan di rumahmu tempat asyikmu berbincang maka demikian pula kantormu

maka pepohonan dirapikan, kantin gelap disulap jadi kafe, masjid meluas, gudang kosong menjadi ruang-ruang bincang yang tenang

dalam nyaman otak dibiarkan berkreasi diam-diam

ia dan penugasan serupa joki dengan sang kuda
seliar apapun kan coba ia taklukan
tak mudah untuk katakan tak bisa, karena penyangkalan tugas hanya menutup pintu kemungkinan menuju sukses
katakan iya saja, lalu memeras tenaga untuk meraihnya

kita punya otak kenapa tak dioptimalkan?

lalu berlarianlah kuda berpacu
debu beterbangan
melecut dalam ringkik
kendali erat tergenggam
hanya titik yang dituju yang terlihat
hanya titik yang dituju yang terlihat

lalu memerciklah residu juang itu
menjadi kembang api dalam seduh kopi, nyanyian bersama, sajian berbuka di setiap pekan, berbagi ke sekitar tanpa henti, terus bergerak, terus bergerak

ini hanya aksi dari reaksi atas kenikmatan yang telah terlimpah
ini hanya bukti pengabdian
hanya tak ingin menyerah
hanya tak ingin berhenti
karena berhenti bisa membuat kita mati.

KPP Pratama Mampang Prapatan, 02/09/2019
Poetoe

Rivea

ia di seberang meja
di telan cahya seolah senja
kita eja makna
baris-baris kata

ia di bandara
hinggap di sebuah kota
kubayangkan ia
berjalan penuh harap

jarak jadi nada
berdendangan pada birama
hanya ingin membersama
lalui gawai semoga tak sia sia

masa depan ia seret
menyeberangi ruas masa
mimpi berterbangan di sisi sisi
doa doa berkibaran

28/08/2019
Poetoe

Senin, 02 Oktober 2017

Di sini, dia bekerja untuk Tuhan


Ditulis oleh Ivan Styo Wibowo, Account Representatif di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Mampang Prapatan dalam rangka pemilihan pegawai teladan Direktorat Jenderal Pajak 2017. 
  
Sektor pajak merupakan primadona pendapatan dan menjadi salah satu penopang jalannya pembangunan di Indonesia. Karena penerimaan dari sektor perpajakan merupakan 80% lebih dari penerimaan negara baik pajak pusat maupun pajak daerah. Untuk itu seluruh elemen yang berperan dalam proses penerimaan negara khususnya penerimaan sektor perpajakan diharapkan bekerja secara optimal dalam melakukan tugasnya mencapai penerimaan.
Kebijakan Pengampunan Pajak yang baru saja berakhir pada 31 Maret 2017 lalu menjadi salah satu cerita manis bagi Direktorat Jenderal Pajak. Dengan capaian total harta yang dilaporkan oleh Wajib Pajak sebesar Rp. 4.855 trilyun, dengan rincian deklarasi harta di dalam negeri Rp. 3.676 trilyun, harta luarnegeri Rp. 1.031 trilyun, reptriasi Rp. 147 trilyun dan pencapaian uang tebusan sebesar Rp. 114 trilyun. Pencapaian penerimaan tersebut bila ditambah dengan pembayaran bukti permulaan Rp. 1,75 trilyun dan pembayaran tunggakan sebesar Rp. 18,6 trilyun total mencapai Rp. 135 trilyun penerimaan dari program Pengampunan Pajak tersebut. Ya, saya katakan cerita manis karena pencapaian tersebut merupakan salah satu program Pengampunan Pajak terbaik di dunia.
Keberhasilan Direktorat Jenderal Pajak tersebut tidak terlepas dari peran dan sinergi seluruh komponen bangsa ini, yaitu Wajib Pajak, Apindo, Kadin, Dewan Pers, Perbankan dan juga seluruh Pegawai Pajak yang bekerja siang malam tanpa lelah mengawal kesuksesan program Pengampunan Pajak ini.  Seluruh pegawai pajak ditugaskan selama 9 bulan mulai dari 1 Juli 2016 sampai dengan 31 Maret 2017 tanpa henti siang malam, sampai waktu liburpun yang seharusnya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga atau setidaknya untuk beristirahat rela dikorbankan untuk melayani Wajib Pajak yang ingin melaporkan Pengampunan Pajak.
Di sinilah penulis mulai mengenal sosok pegawai Direktorat Jenderal Pajak, sosok penerus masa depan birokrasi, sosok muda energik yang tak kenal lelah melayani baik Wajib Pajak maupun teman-teman sesama pegawai pajak. Penulis ingin menyebutnya dengan sebutan Del.

Pada tugas piket Pengampunan Pajak Del yang lahir pada bulan Juni 1994 ini bertugas sebagai Pengarah Layanan, yang sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak bertugas:   
1.      Meneruskan Surat Pernyataan kepada Subtim Peneliti; 
2.      Menghubungkan Wajib Pajak dengan Subtim Peneliti; dan 
3.      Menyerahkan tanda terima kepada Wajib Pajak.
Tugas yang diberikan dengan sangat bertanggung jawab dikerjakan oleh Del. Di setiap tugas piketnya dia hadir melayani dengan penuh senyum, dengan tutur kata yang baik dan dengan kecepatan yang dimiliki dia berhasil membuat banyak Wajib Pajak senang atas pelayanannya. Selain sebagai pengarah layanan Del ditugaskan oleh KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan sebagai “Dokter Exel”, tugas yang tidak ada dalam Surat Edaran tersebut tetapi sangat penting dalam proses penerimaan Surat Pernyataan Harta pada program Pengampunan Pajak kali ini. 

Kami di sini menyebutnya Dokter Exel, iya dia bertugas memperbaiki file yang dibawa oleh Wajib Pajak dan memastikan bahwa file tersebut dapat terbaca pada Aplikasi Pengampunan Pajak. Terdengar mudah dan tidak sulit, tetapi sering kami para petugas baik penerima maupun peneliti kuwalahan untuk memperbaiki file yang tidak dapat terbaca oleh Aplikasi Pengampunan Pajak ini. Tetapi bukan Del kalau dia mengeluh diberikan tugas ini, sekali lagi dia menunjukan bahwa dengan senyum, keikhlasan, dan kegigihan semua tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak jarang dia bertugas dari pagi sampai sore hari untuk mensukseskan program Pengampunan Pajak ini, pagi dia bertugas sebagai Pengarah Layanan disambi sebagai Dokter Exel kemudian siang dia bertugas sebagai Dokter Exel, begitupun sebaliknya. Kami semua senang dilayani oleh saudara Del ini, terlebih Wajib Pajak yang tidak perlu kembali ke kantornya untuk memperbaiki kesalahan bentuk file, kesalahan rumus atau hanya kesalahan tulis yang secara manusiawi dilakukan oleh seorang manusia. 

Sering saudara Del ini pulang larut untuk menyelesaiakan tugas pokoknya di seksi Pengolahan Data dan Informasi. Tugasnya sebagai Pengarah Layanan dan Dokter Exel tadi telah sering menyita waktunya yang ditugaskan oleh negara selama 9 jam 30 menit, sehingga untuk mengerjakan tugas rutinnya dia sampai harus mengerjakannya di waktu setelah jam kerja berakhir. Hari berganti waktu berlalu, perasaan letih, bosan, dan perasaan ingin segera berkhir 9 bulan ini banyak menghampiri kami. Tetapi hal itu seolah tidak pernah terlihat pada diri Del, sampai pada akhir bulan ke sembilan pada hari akhir, jam akhir, menit akhir dan detik akhir bahkan lebih dari pukul 24.00 WIB tepatnya pada pukul 01.00 WIB tanggal 1 April 2017 tugas pelayanan Pengampunan Pajak sukses dijalani oleh Del. Pengalaman bekerja bersamanya sungguh menginspirasi saya untuk terus bekerja dengan hati di instansi ini. Program Pengampunan Pajak telah berakhir, kesuksesan Direktorat Jenderal Pajak dalam program inipun talah diraih. 

Saatnya kami berfikir untuk sejenak beristirahat, dengan menurunkan tingkat bekerja dari gigi lima menjadi gigi dua. Saya fikir banyak pegawai melakukan hal yang sama dengan menurunkan perseneling ini, tetapi sekali lagi saya tidak melihatnya pada diri Del. Dia tetap bertugas dan setau saya tidak pernah menurunkan kecepatannya dalam bekerja. Bulan Aprilpun mulai memasuki masa pertengahan, disini saya punya cerita mengenai Del ini yang sama-sama ditugasi sebagai tim penerima SPT Tahunan tahun  2017 pada KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan. Saya bertugas sebagai peneliti SPT dan Del bertugas sebagai pembuat tanda terima SPT Tahunan, kami bersinergi dan melakukan tugas ini dengan baik. Selain sebagai pembuat tanda terima SPT Tahunan Del juga bertugas memperbaiki file csv. yang digunakan oleh Wajib Pajak yang menyampaikan SPT nya secara elektronik. Hari berganti waktu berlalu semua kami lakukan dengan suka cita di kantor ini. Sampai saatnya di hari terakhir penerimaan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan pada hari kerja yaitu 28 April 2017, kali ini kami ditugaskan tanpa melebihi jam kerja alias tanpa lembur. Yes, mungkin kata itu yang pertama terucap karena biasanya pada hari-hari terakhir terakhir kami ditugaskan sampai melebihi jam kerja normal kami. Dan biasanya di akhir periode di hari liburpun demi melayani Wajib Pajak kami ditugasi masuk, tetapi kali ini kami hanya ditugasi melayani Wajib Pajak sampai pukul 16.00 WIB. 

Kami pun mencoba melayani Wajib Pajak dengan penuh keikhlasan dan senyuman, pukul 16.00 WIB pun telah berlalu. Akhirnya kami ditugasi sampai dengan Wajib Pajak yang telah memiliki nomor antrian selesai dilayani semua. Tepatnya pada pukul 19.30 WIB saya menerima dan meneliti salah satu Wajib Pajak perusahaan A. Seorang pegawai dari perusahaan tersebut datang membawa fisik SPT Tahunan dan flasdisk berisi file csv. setelah dilakukan penelitian pada aplikasi viewer SPT Tahunan PPh Badan, file yang dibawa oleh pegawai tersebut tidak bisa dibaca. Di sini saya meminta batuan Del untuk mencoba memperbaiki file tersebut, karena masih terdapat antrian lain di depan saya sehingga Wajib Pajak tersebut saya arahkan menemui Del di lt. 2. Untuk memperbaiki file csv. Wajib Pajak seharusnya membawa folder Database (DB) karena memperbaiki file csv. tersebut dibutuhkan folder DB tersebut. Sampai akhirnya semua Wajib Pajak telah selesai saya layani, Wajib Pajak perusahaan A tersebut belum juga kembali ke lantai 1 tempat dimana peneliti dan pencetak tanda terima SPT Tahunan bertugas. Akhirnya saya datang ke lantai 2, di situlah diruangan Del saya melihat Del dengan sangat sabar melayani Wajib Pajak. Ternyata masalahnya adalah pegawai perusaan A tersebut tidak membawa folder Database pada flasdisk nya. Beberapa orang menyarankan agar dia mengirimkan SPT Tahunan dan flasdisk yang dilengkapi dengan csv. dan folder Database melalui Pos tercatat atau jasa pengiriman lainnya pada esok atau lusa karena masih belum terlambat dalam penyampaian SPT Tahunan. 

Sekali lagi saya ditunjukan seorang hebat yang tanpa pamrih melayani Wajib Pajak, dia tidak menyerah saat Wajib Pajak tidak membawa folder database, dia meminta agar teman dari Wajib Pajak yang masih berada di kantor Wajib Pajak mengirimkan email folder database. Pegawai Wajib Pajak yang datang ke KPP pun segera menelepon dan meminta dikirimkan folder database. Pegawai yang berada di kantor Wajib  Pajak sudah mengirimkan file database dan saudara Del pun akhirnya memperbaiki csv. tetapi ternyata folder yang dikirim oleh pegawai yang berada di kantor Wajib Pajak tersebut salah yaitu SPT Tahunan tahun 2015 sedangkan Wajib Pajak akan melaporkan SPT Tahunan tahun 2016. Pegawai dari Wajib Pajak yang datang ke KPP pun sudah pasrah dan berniat menyampaikan SPT Tahunan melalui pos atau jasa ekspedisi tercatat lainnya. Tetapi saudara Del belum juga menyerah, dia memiliki ide untuk me-Remote komputer Wajib Pajak yang berada di kantor Wajib Pajak atas ijin Pegawai yang datang. Saya berucap dalam hati, gila nih si Del pantang menyerah banget. Akhirnya setelah sekitar 15 menit saudara Del berhasil menemukan tempat folder Database yang tersimpan di komputer milik Wajib Pajak, sementara pegawai yang bekerja di tempat Wajib Pajakpun sudah menyerah untuk menemukan folder database tersebut Del berhasil menemukan dengan cara me-Remote dan akhirnya dia berhasil memperbaiki file csv. malam itu sekitar pukul 20.45 WIB Wajib Pajak perusahaan A berhasil melaporka SPT Tahunan PPh Badan dan menjadi Wajib Pajak terakhir yang melaporkan SPT Tahunan pada hari itu. 

Meskipun saya berbeda keyakinan dengan saudara Del ini, tetapi sekali lagi dia menunjukan bahwa dia bekerja bukan hanya untuk dirinya, bukan hanya untuk kantornya, bukan hanya untuk Direktorat Jenderal Pajak, tetapi seperti dalam keyakinannya “Di sini, dia bekerja untuk Tuhan.”

Jakarta, 15 Mei 2017

Ivan Styo Wibowo



Selasa, 07 Februari 2017

Dita

banyak kata terwakili oleh senyuman
bermakna ketulusan,
kesiapan untuk berikan bantuan,
namun terkadang juga serupa harapan untuk dimengerti

saat harus menggunakan kata pun
kau memilih senyap sebagai latar
volume yang berbatas, memaksa kami perlahan mendekat
caramu indah membuat semua lebih personal

walau tenang, nyaris tanpa gelora
bahkan saat benturan keras datang pun tetap dengan senyuman
kau sejatinya bergerak cepat
kupu-kupu yang sigap terbang cepat, namun tetap anggun
tak goyangkan ujung daun.

kebersaaman di ruang kerja, yang tetap senyap
namun hangat dan dekat
kami pasti rindu.

Selamat berkarya di tempat baru, teman.

Waskon Empat Mampang Prapatan.
~Fant4stic~


Rabu, 10 Juni 2015

Bekerja sebagai ibadah

(Uraian atas kajian tarhib Ramadhan1436 H, di Masjid Al Hikmah KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan, ust. Kh. Anwar Nasihin, Lc)

Selalu ada harga yang dibayar atas sesuatu yang ingin diperoleh, baik dengan harta maupun jiwa, karena hidup ini perihal sebab akibat. Lelah atas apa yang diperjuangkan itu nikmat luar biasa, betapa banyak orang blm sadar bahwa kemuliaan tak dapat diraih melalui impian-impian dlm tidur. Bukankah jika tidak lelah, berarti tidak ada sesuatu yg kita perjuangkan?
Setidaknya terdapat 8 kelelahan yg disukai Allah SWT, yakni ;
1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya. (QS. At-Taubah : 111)
Jangan sempit dlm mengartikan jihad, sesungguhnya kesungguhan kita menjaga kehormatan bisa bernilai jihad. Menjaga kehormatan agama, nyawa, harta, keluarga, dan kemaluan. Kehormatan adalah salah satu bentuk ujian dan cobaan, Allah memberikan nikmat-Nya kpd umat manusia agar Dia bisa melihat siapa yg menerimanya dgn baik, lalu mensyukuri, menjaga, mengembangkan, serta mengambil dan memberi manfaat darinya. Sungguh kenikmatan merupakan tolok ukur, sejauh mana orang2 yg bersyukur mensyukurinya dan sejauh mana pula orang2 yg kufur mengingkarinya.
2. Lelah dlm berdakwah di jalan Allah. (QS. Fussilat : 33)
3. Lelah dlm beribadah dan beramal soleh. (QS. Al. Ankabut : 69)
4. Lelah mengandung, menyusui, merawat, dan mendidik anak. (QS. Luqman : 14)
5. Lelah dlm mengurus keluarga. (QS. At-Tahrim : 6)
6. Lelah dlm menuntut ilmu. (QS. Ali-Imran : 79)
Kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yg samar, menemukan sesuatu yg hilang, dan menyingkap yg tersembunyi. Alangkah mulianya ilmu pengetahuan. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yg menguasainya. Alangkah segarnya hati orang yg penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yg menguasainya.
7. Lelah dlm menghadapi cobaan/ musibah. (QS. Al-Baqarah : 155)
Ada hal-hal besar dalam setiap musibah yg menghampiri : ada kesabaran, ada takdir, ada pahala, ada tuntutan agar hamba menyadari bahwa Yang Mengambil adalah Yang Memberi, dan bahwa Yang Mencabut adalah Yang Menganugerahkan. Betapa banyak orang yg sudah putus asa namun kemudian datang kegembiraan, sungguh banyak orang ketakutan menjadi menakutkan dan peristiwa yang pahit berubah manis. Kesulitan2 itu sebenarnya akan menguatkan hati, menghapuskan dosa, menghancurkan rasa ujub,  dan menguburkan rasa sombong. Kesulitan2 akan menyalakan lentera dzikir dan meluruhkan kelalaian.
8. Lelah dlm mencari nafkah yg halal.
"Apabila telah dilaksanakan shalat, maka bertebaranlah kamu di bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah : 10)
Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Kewajiban seorang suami dan ayah adalah menafkahi, baik lahir maupun batin. Bekerja atau mencari rezeki yang halal merupakan ibadah. Rasulullah SAW menegaskan, bekerja untuk mencari nafkah merupakan kewajiban (fardlu). Alkisah, ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan salah seorang sahabatnya, Sa'ad bin Abi Waqqas. Ketika bersalaman, terasa oleh Rasulullah telapak tangan Sa'ad yang kasar, betapa tangannya kasar, kering dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannnya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah SAW serta merta mencium tangan Sa’ad dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan disentuh api neraka!” Masha Allah, betapa Islam sangat memuliakan orang2 yg bekerja keras.
Bagaimanakah Islam menggariskan teknis dalam bekerja? Diantaranya adalah ihsan dan itqan yang dapat disetarakan dengan istilah profesionalisme.
Allah telah menetapkan bahwa segala hal harus memiliki pondasi ihsan,
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan atas segala sesuatunya” (HR Muslim)
Dalam pekerjaan, ihsan berarti memenuhi hak pemberi kerja (perusahaan), pekerja (karyawan), rekan, pelanggan, serta para stakeholder lain sesuai bidang pekerjaan tersebut.
Anjuran berikutnya ialah itqan yang bahasa arabnya diartikan sebagai rapi dan paripurna dalam sesuatu yang memerlukan keahlian.
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta`ala mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqon dalam pekerjaannya” (HR Baihaqi)
Itqan dalam bekerja mengharuskan pelaksanaannya secara prosedural, proporsional, dan progresif. Pekerjaan harus dilakukan dengan benar dan disiplin menaati aturan serta tuntutan prosedur. Ia juga mesti dijalankan pada waktu yang seharusnya sesuai proporsi jam kerja dan tenggat tertentu. Kemudian tidak sekadar selesai, namun juga berupaya agar bisa mengembangkan pekerjaan, progresif untuk mencapai hasil dan nilai yang lebih baik dari tahapan ke tahapan; dari masa ke masa.
Teruslah berbuat baik, janganlah pernah merasa diri ini sudah cukup baik. Karena sesungguhnya hal itu hanya akan membuat diri membatasi dari perbuatan baik. Akan ada balasan dari setiap yg kita lakukan, Allah menjamin orang2 yg ihsan atas jannah yg demikian indah. Hal tersebut termaktub dlm QS. Yunus : 26 yang berbunyi "Bagi orang-orang yg berbuat baik, ada pahala yg terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tdk ditutupi debu hitam dan tdk (pula) dlm kehinaan. Mereka itulah penghuni surga,  mereka kekal di dalamnya."

Sekian.
Khairunnas anfa'uhum linnas. Semoga bermanfaat.

**Nuke Listiawati.

Kamis, 04 Juni 2015

jangan takut untuk mengaku takut

Terkadang dengan berdalih "dewasa" kita letakkan kata takut pada sisi negatif. Seperti enggan ditakut-takuti. Padahal ternyata takut akan dosa lalu masuk neraka itu yang membuat kita tetap beribadah dan jauhi sikap tercela. Takut pada hukuman juga yang memotifasi kita patuhi aturan. Demikian pula takut melukai hati orang lainlah yang membuat kita bersikap sopan dan lembut hati.

Kita butuh takut, untuk bertahan dalam kebaikan dan beranjak menjadi lebih baik.

Kamis, 29 Januari 2015

Seberapa pantaskah kita?

Bicara tentang remunerasi aku malah teringat nasehat seorang pak de sebelum aku menikah. Bahwa menikah itu jangan hanya bayangkan enaknya saja, karena enaknya itu bisa saja dirasakan tanpa menikah. Tapi yang penting tanggung jawab. Pernikahan itu rangkaian tanggung jawab. Nasehat itu masih teringat, karena menurutku saat itu kalimat inilah yang menyadarkanku. Bahwa selalu ada konsekuensi kewajiban selain dari hak yang akan kita dapatkan.

Demikian halnya, remunerasi. Ini bukan perkara tambahan atas hak kita saja, melainkan juga tambahan kewajiban. Yang meresahkan adalah bayangan bahwa kewajiban yang akan aku emban itu di atas kualifikasi sebagai pegawai. Ada kekhawatiran justru potensi kedholiman yang akan aku perbuat. Karena menerima yang tak seharusnya pantas menjadi hakku.

Mungkin seperti kata Mario Teguh, bahwa kita harus memantaskan diri untuk menjadi seorang yang menerima gaji yang lebih besar.

Entah, seberapa pantaskah kita?

Teman kita adalah....

Teman memang terasa saat ia bisa menjadi tempat bersandar, tempat curahan hati, atau saat ia mendukung apa yang kita lakukan. Terkadang kita merasa tak nyaman ketika seorang teman justru mengkritik kita, menegur kesalahan kita, meluruskan kita saat kita bengkok. Padahal sejatinya mengkritik, menegur, dan meluruskan itu yang lebih kita butuhkan dari seorang teman.

Mungkin karena teman itu cermin. Tempat kita mampu melihat diri kita di sisi yang tak terlihat oleh kita. Kita butuh teman sebagai mata kita yang lain, sebagai telinga kita yang lain. Ia menjadi seorang yang segera memegang lengan kita erat saat kita nyaris tergelincir ke dalam jurang. Kita memang butuh teman.

Saat tak ada teman mungkin sudah lama kita tersesat. Atau terpeleset ke dalam jurang dan tak bisa bangkit lagi. Walaupun terkadang ia hanya mengingatkan apa yang pernah terucap oleh kita namun kita lupakan. Terkadang hanya mendelik sampaikan sinyal ketidaksetujuan. Terkadang juga hanya sampaikan ketidaknyamanannya atas apa yang kita lakukan. Dan ternyata semua itu menyelamatkan kita.

Teman adalah pengkritik kita, adalah cermin kita, adalah penyelamat kita.

Terima kasih teman.

Minggu, 25 Januari 2015

Reputasi?

Reputasi
Citra
Nama baik.....

Adakah kemasan kita mendustai isinya?

Harga diri
Menghargai diri
Menghargai diri terlalu tinggi

Pantaskah kita mudah tersinggung dan sakit hati..?

Karakter
Niat baik
Nilai sejati diri

Kelam atau mempesonakah kita jika tanpa polesan?



Minggu, 11 Januari 2015

Saat 25 tahunku, dulu....

Seorang bertanya padaku seperti apa diriku di umur 25 tahun? Lalu yang teringat adalah masa-masa sulit bertahan dalam idealisme sedang kondisi kerja tidak mendukung.

Apa yang membuatku tetap bertahan pada waktu itu?

1. Ajaran keluarga untuk tidak memandang hidup dengan ukuran-ukuran materi. Sejak kecil kami tak boleh merasa miskin dalam kondisi apapun.

2. Ajaran Bapak "Jangan sampai ada hak orang lain yang terambil oleh kita, sebaliknya jika ada hak kita di tangan orang lain maka segera ikhlaskan." Pernah suatu hari, saat aku masih SMP dan ikut Bapak ke Jakarta, demi mengembalikan kelebihan uang kembalian di sebuah warung, kami harus berjalan kaki jauh mencari warung tersebut.

3. Buku-buku sosialis yang dulu gemar aku baca membuat aku berjarak dengan dunia gemerlap yang menurutku waktu itu adalah produk kapitalisme. Pernah sangat risih saat berjalan di trotoar di depan pertokoan, dan memilih berjalan memutar mencari gang-gang sempit.

4. Sejak kecil tak pernah bercita cita jadi orang kaya. Karena kaya itu hanya akibat dari sebab kerja. Jika karena kerja lalu kaya ya terima saja, Alhamdulillah.

5. Di kantor bertemu teman-teman aktifis dakwah birokrasi yang sangat menjaga diri dari uang-uang kotor itu.

Mungkin karena hal-hal tersebut di atas, aku terjaga untuk bertahan di jaman itu.

Wallohu a'lam.

Kamis, 08 Januari 2015

BIASA VS LUAR BIASA

Biasa itu jauh lebih hebat dibanding luar biasa. Karena luar biasa itu hanya sesaat, sementara biasa itu konsisten, rutin dan tentu butuh daya tahan yang lebih tinggi dari sekedar yang luar biasa.

Percakapan dengan seorang teman yang mengaku suaminya itu lelaki biasa yang nampak tak romantis, tidak suka memberi hadiah saat ulang tahun. Kata dia suaminya hanya biasa menyuapinya saat ia makan. Walau hanya tiga atau empat sendok pasti ia luangkan untuk menyuapi istrinya saat makan bersama. Aku sampaikan itu berarti luar biasa, tapi sang istri menyangkal bahwa itu bukan luar biasa, itu biasa menurut dia. Karena memang hal luar biasa itu memang akan biasa saat dibiasakan.

Jadi benarkan, menjadi biasa itu lebih hebat dibanding sekedar luar biasa.

Benarlah memang, "Sebaik baik amalan adalah yang terus menerus meski sedikit."

Demikianlah.

Rabu, 07 Januari 2015

KITA DIBUAT BERHASIL

Acara khatmul Quran - mengkhatamkan al Quran dalam satu hari, diadakan di masjid kantor KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan dalam rangka Tasyakuran Tercapainya Target kantor, semangatnya adalah menambahkan satu kata dalam kalimat berita tentang sebuah kesuksesan. Demikian yang disampaikan bapak Kepala Kantor saat memberikan sambutan. Tambahan kata itu adalah: "dibuat". Kalimat awalnya "kita berhasil" menjadi "kita dibuat berhasil". Ialah bagaimana kita selalu melibatkan Dia dalam setiap urusan kita.

Lalu mengapa acaranya khatmul Quran? Banyak alasan namun paling tidak ini cara kita sebagai hamba mendekatiNya, dengan berakrab akrab dengan firmanNya.

Kami mengundang enam hafidz Quran, mereka melafalkan hafalan Qurannya dari Al Fatihah hingga surat An Nas. Kami bersama menyimak. Susanannya indah. Kami menikmati lantunan ayat-ayatNya dipimpin oleh hafidz yang menurutku menakjubkan. Saat melantunkannya mereka terlihat sangat menikmati. Terkadang mereka ekspresikan dengan gerakan tangan atau menggoyang goyangkan kepala.

Kami pikir kami akan kelelahan duduk berjam-jam menyimak mereka, ternyata tidak. Quran memang energi. Semakin lama kami semakin menikmati. Indahnya suasananya.

Kami mulai pukul 08.30 pagi, dan selesai pukul 00.04. Tidaklah waktu yang sebentar. Lelah memang namun kami merasa lebih berenergi. Semoga ini bisa menjadi energi kami di sepanjang tahun ini. Energi kami untuk menjadi hamba yang taat, menjadi khalifah yang amanah di bumi ini.

Aamiin.

Pengakuan atas kesalahan

Tadi setelah ashar secara rutin ada pembacaan hadits Riyadhus Shalihin. Hari ini sampai pada hadits tentang kisah Kaab bin Malik. Sahabat yang menyengaja tidak berangkat dalam ekspedisi perang Tabuk. Sahabat yang tidak mau mencari cari alasan namun dengan lugas mengakui kesalahannya. Dia dihukum dikucilkan selama 50 hari. Hukuman yang berat, namun ia terima. Kisah ini bahkan diabadikan dalam Al Quran.

Pelajarannya adalah tentang kejujuran. Keberanian untuk melakukan pengakuan. Dan kesiapan hati menjalani hukuman karena didasari kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan. Hasilnya tobat yang diterima tidak semata mata meringankan hati melainkan juga menjadi energi untuk perbaikan dan pengembangan diri terus menerus.

Demikianlah energi pengakuan, energi keterusterangan. Teringat nasehat ibu dulu, jangan lari dari akibat yang sebabnya telah kita lakukan.



Kamis, 27 November 2014

Untuk Kantorku.

Sejarah memang tak mencatat semua pelaku sejarahnya, karena yang tercatat hanya mereka yang terhubung langsung dengan peristiwa-peristiwa besar saja. Namun jika kita paksa lebih detail lensa kamera kita, zoom in ke beberapa peristiwa besar lalu perhatikan lebih dekat, akan kita temukan banyak orang-orang hebat yang ikut terlibat dalam fragmen peristiwa-peristiwa sejarah itu.

Bagaimana dengan kita? Yang kita jalani hari ini tentu nanti akan menjadi sejarah bagi anak keturunan kita. Walau belum tentu sejarah itu tercatat, karena seperti di awal tadi, bahwa sejarah hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar saja. Tidaklah penting dicatat atau tidaknya, namun yang menjadi penting untuk kita adalah seberapa peran kita dalam bangunan sejarah itu, ini akan menjadi ukuran kualitas seseorang, karena sebaik-baik seseorang itu adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Apakah kita sudah cukup bermanfaat?

Tempat kerja kita adalah kolam jika kita jadi ikan. Kita nyaman jika air kolam tetap jernih. Apa peran kita dalam menjaga suasana  kerja di kantor kita?

Membangun saluran-saluran komunikasi adalah salah satu pilar dari bangunan kenyamanan itu. Saluran komunikasi itu harus memadai untuk menampung isi hati para penghuninya. Dan saluran itu memang tak bisa dipaksakan dalam satu saluran saja. Karena setiap kita di usia matang tentu sudah memiliki banyak pengalaman-pengalaman yang mengendap menjadi keyakinan. Seberapa besar cawan hati kita untuk menampung beda itu pun tetap saja ada kemungkinan benturan. Walau demikian, idealnya memang, ada satu kanal besar yang menampung selokan-selokan kecil itu. Sehingga obrolan-obrolan yang terbangun secara informal itu bisa tetap rapi terstruktur. Sehingga aliran sederas apapun tak harus ciptakan gelombang yang menampar kanan dan kiri.

Demikianlah, setiap hari masih saja berusaha menjawab pertanyaan: apa peran aku dalam membangun suasana nyaman di kantorku.

Wallohu a'lam.

Sabtu, 08 November 2014

Bergerak Lebih Cepat

Dalam olah raga, bergerak lebih cepat selalu saja menguntungkan. Mungkin demikian juga dalam mengambil keputusan, semakin cepat berfikir akan semakin baik. Cepat kumpulkan data, lebih banyak siapkan alternatif, buat lebih banyak pilihan, pastilah keputusan yang diambil akan lebih berkualitas.

Teringat dulu, saat di sekolah ada teman yang terlihat malas belajar, namun selalu hebat dalam nilai akademis. Setelah mengenal lebih dekat, ternyata dia seorang yang rajin berfikir. Walau sambil nongkrong, ngopi, bahkan terkadang merokok, dia selalu sibuk menganalisa banyak hal. Bahkan gaya guru mengajar pun dia sudah terekam dalam ingatan secara gamblang. Pernah saat duduk di sebelahnya, di kelas, saat guru sampaikan materi, dia mencoret-coret di bukunya, aku lirik... ternyata dia sudah membuat soal latihan. Saat itu aku ambil kesimpulan, cerdas itu pasti tekun dan giat belajar. Walau belajarnya hanya dalam pikiran, dan secara fisik dia terlihat santai.

Dalam catur pun begitu, pecatur yg hebat, telah menyiapkan semua kemungkinan dari langkah sang lawan. Juga para petarung, setiap jurus selalu bersiap sambut jurus yang lain. Dan demikianlah idealnya saat mengambil keputusan, banyaknya data akan sangat mendukung. Dan tentu daya khayal kita yang mendukung untuk mengembangkan analisa atas data yang kita punya.

Sabtu, 01 November 2014

Mencari kesalahan diri.

"Jangan cari-cari salah dan aib orang lain, seringlah mencari salah dan aib diri sendiri... mudah-mudahan dengan begitu tidak akan ada waktu mencari salah dan aib orang lain..." kalimat mas Feri Susanto, pada suatu hari di MP FM. Mungkin hanya kalimat biasa, dan sudah juga sering kita dengar dari orang lain, tapi aku merasa perlu menyimpan kalimat ini sebagai pengingat buatku. Karena memang benar, kata pribahasa "Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di ujung lautan nampak."

Waktu yang kita miliki itu sudah jelas. 24 jam. Sama dengan yang dimiliki oleh penduduk dunia lainnya. Waktu seolah gelas, yang tak bisa memuat melebihi batas kapasitasnya. Jika penuh akan meluap. Jika waktu diisi dengan kesia-siaan maka pasti kemanfaatannya tak punya tempat. Demikian sebaliknya. Seperti kesibukan mencari kesalahan orang lain pastilah akan membuat kita tak punya waktu cukup untuk mencari kesalahan diri sendiri. Demikian sebaliknya.

Dalam kaca mata agama, istighfar membuka pintu-pintu solusi atas banyak masalah. Bahkan untuk mendapatkan keturunan pun ada nasehat dengan perbanyak istighfar. Istighfar adalah permohonan ampunan. Dan permohonan ampunan dimulai dengan kesadaran atas kesalahan diri. Artinya Tuhan mengingatkan bahwa mulai dari kesadaran akan kesalahn diri itu lah pintu solusi akan terbuka. Akan berbeda jika kita sibuk menyalahkan orang lain, kita justru akan semakin terpuruk dalam belukar masalah.

Rabu, 29 Oktober 2014

tentang uang (catatan di hari Oeang)

Di Hari Oeang, aku ingin menulis tentang uang. Betapa uang telah mengambil peran penting dalam kehidupan manusia. Awalnya hanya alat tukar untuk berinteraksi dalam menyelesaikan kebutuhannya. Namun perlahan, menjadi lebih dari sekedar media. Uang bisa menjadi motivasi, menjadi alasan seorang mau berlelah-lelah, bahkan pertaruhkan nyawa. Manusia terkadang lupa, uang hanya salah satu alat untuk penyelesaian kebutuhan. Bukan bagian dari kebutuhan kita. Kita butuh makan, untuk mendapatkan makan kita harus beli, untuk beli kita perlu uang. Entahlah.

Satu hal yang sering tidak berhasil aku pahami adalah perasaan kecewa dan sedih saat kita kehilangan uang, terkadang kita merasa sangat terpukul. Seakan musibah besar menimpa. Padahal bisa jadi, tanpa uang kebutuhan kita tetap dapat terpenuhi. Protes kita mungkin begini: bisa jadi kan? Bisa jadi sebaliknya. Hehe... padahal dengan uang pun tak ada jaminan kebutuhan itu terpenuhi. Sama saja.

Bukankah kita bisa membeli makanan, tapi tak bisa membeli rasa kenyang, bisa membeli tempat tidur tapi tak bisa membeli nyenyaknya tidur.

Ada fragmen yang juga belum berhasil aku pahami, saat seorang peserta kuis, pada satu babak dia menang dan mendapat hadiah sekian rupiah, uang itu belum diberikan, hanya disebutkan. Lalu pembawa acara menantang sang peserta, mau lanjut ke babak berikutnya? Tapi hadiah di babak pertama dipertaruhkan. Kadang peserta ragu, terkadang juga yakin untuk maju. Pernah peserta nekat lanjut dengan pertaruhkan seluruh hadiah, ternyata kalah. Ia sangat menyesal. Menurutku ini aneh. Hadiah belum diterima, tapi peserta menyesal saat tak jadi diterima. Padahal saat datang ke kuis dia tak bawa apa-apa, jadi wajar saja jika pulang tak bawa apa apa. Atau jika akhirnya dapat tapi hanya sebagian, karena sebagian lain hilang saat dipertaruhkan mestinya dia bahagia, namun terkadang tetap menyesal karena tak dapat lebih banyak.

Mungkin ini memang tentang rasa ingin. Keinginan terkadang jadi sumber penderitaan (kata mas Iwan Fals). Bisa jadi, derita itu karena kita menarik terlalu cepat sesuatu itu menjadi milik kita, sehingga saat hilang kita terluka. Bahkan sesekali kita terjebak pada kehilangan atas sesuatu yang tidak kita miliki.

Demikian halnya uang, sesuatu yang ada hanya karena saat transaksi pertukaran barang dan jasa kita butuh media. Itu saja. Karenanya tak pantaslah uang menjajah terlalu dalam, hingga menguasai rasa bahagia kita.

Entahlah.

Rabu, 22 Oktober 2014

Sekapur Barus.

Tak mudah mencatat perbincangan di meja kopi pagi ini. Tema perbincangan melompat-lompat ke sana ke mari. Untuk menangkapnya aku harus ikut melompat-lompat. Dari rongga kepalaku ke rongga kepala teman-teman, terbang ke langit, lalu menclok di atap kantor, kemudian meluncur bergulingan di atap-atap mobil yang parkir di halaman. Akhirnya mencebur ke cangkir kopi. Berenang di sana.

Memikirkan seseorang teman sambil berkendara sepeda motor saat berangkat kantor, adalah membawa ia dalam alam kita. Mengajak ia berdiri di speedometer, mejadi boneka kecil. Lalu duduk di sana, terkadang berjalan dari titik angka 0 ke angka 110, sesekali menarik jarum jam dalam speedometer itu melampaui kecepatan yang sebenarnya. Ahai.... juga seperti saat dua butir kapur barus itu, masuk ke dalam tanki bensin, untuk meningkatkan oktan. Entah benar atau tidak. Katanya bisa meningkatkan kecepatan motor kita. (Atau merusak speedometer kita, hehe).

Jadi teringat Dayang Sumbi yang halangi Sangkuriang saat penuhi permintaannya sebagai syarat memperistrinya... dengan memukul lesung, mengundang fajar lebih cepat datang. Apakah matahari menjadi lebih cepat, atau hanya unggas sebagai tanda-tanda pagi itu yang lebih awal bernyanyi? Gerakan Matahari itu serupa kecepatan motor kita, dan unggas seolah speedometer itu. Kita sering terjebak pada kerancuan berfikir antara yang diukur dan dasar ukuran. Entahlah.

Memang tak mudah, mencatat tema percakapan yang berlarian tanpa rima dan tujuan.

**bincang di warung Lala

Kamis, 16 Oktober 2014

MEMILIH UNTUK BERARTI

Film pendek yang mengambil latar kehidupan tiga pegawai negeri sipil ini memang sederhana, tapi cukup menarik untuk dilirik.  Alur cerita mengalir dengan cepat seperti memaksa kita untuk menunda mengedipkan mata sejenak.

Dian yang kesehariannya harus melewati fasilitas jalan yang tidak nyaman dan penuh tantangan, ditengah kemajuan pembangunan (katanya). Maman yang harus menggelengkan kepala saat melihat seorang anak yang seharusnya menikmati bangku sekolah,  tetapi harus mengamen demi kelanjutan hidupnya. Serta Dika yang melihat kenyataan bahwa sejumlah pemuda di sekitar lingkungannya menganggur karena tidak tersedianya lapangan kerja bagi mereka. Tiga kisah ini menjadi pecahan yang menghantarkan kita pada kejadian-kejadian kecil yang nyaris tidak berhubungan satu sama lain dalam waktu enam menit.

Dalam alur yang singkat, ketiga tokoh ini digiring kepada kondisi yang berat bagi mereka. Tawaran yang menggiurkan dan dengan sedikit menutup telinga hati nurani, mereka bertiga mungkin akan sampai pada kenyamanan diri sendiri. Tapi tunggu dulu, apakah itu pilihan mereka? Tentu tidak, dengan harapan bahwa ada perubahan ke arah yang lebih baik dari setiap pilihan yang mereka ambil, Dian, Maman dan Dika dengan tegas menolak setiap tawaran tersebut.

Film Sebelum Habis ini ingin menarik kita sesaat, kembali kepada sejumlah kenyataan yang terpapar di depan mata. Dan tanpa kesan menghakimi, film ini mencoba memperlihatkan bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan dapat berdampak besar pada sisi kehidupan lain. Dian, Maman maupun Dika memilih untuk berjarak pada korupsi karena dengan cara itu mereka memberi harap pada negeri. Bagaimana dengan pilihan Anda?

Resensi Film "Sebelum Habis" oleh Boy Valentin Purba.

Sebelum Habis (narasi untuk Film Hari Anti Korupsi 2014 - KPP Pratama Mampang Prapatan)


Waktu berjalan,
seolah detik-detik yang berguguran
tanpa pernah kita bisa memungutinya kembali

banyak hal yang tidak kita harapkan, namun ada di depan mata
tak semua menemui pintu kesempatan yang terbuka….
Terkadang harus berani mengetuknya,
Terkadang harus rela menunggu.

Pada saatnya arus hidup itu
akan membentur karang…
dan kita harus memilih

Jika tak pedulikan bisikan hati,
mungkin kita akan terbanting dalam sesal di kemudian hari…

pilihan itu akan tertulis dalam dinding sejarah kita
catatan yang melegakan hati
catatan yang akan kita syukuri.

Karena kata “tidak” bisa mengubah arah kenyataan
Kenyataan sebagai bangsa yang bangga
Bahwa jujur masih bisa hidup subur….

Di negeri ini.