Jumat, 22 Oktober 2010

pasukan P2H di Anyer....

 
lihat gaya mereka... sejenak setelah bersiap-siap dalam acara sosialisasi di Anyer....
- Atz sang bendahara yang coba tampil lebih rileks, melepas beban "rupiah" dan "brangkas"....
- Dedi yang berani tampil sedikit terbuka,
- Ana yang tetap menjaga gaya, biar sesuai dengan teori di kelas "kepribadian"
- Putu yang tetap meringis [buktiin kalau gigi belum ilang] dan pamerkan tulang belulang...
- Pika yang manis... selalu menjaga kualitas senyuman..
- Ikma yang tetap rapih berdiri sesuai SOP..... 

Selasa, 13 Juli 2010

senyum bu Ana....

senyum itu selalu memenuhi ruangan kita,
menjadi matahari di sepanjang hari,
menjadi suluh yang menerangi,
menjadi peta yang membimbing setiap langkah.

senyum itu adalah bingkisan indah,
selalu ada di setiap acara yang kita rangkai
selalu saja menemani;
bahkan di saat-saat penuh tekanan...

senyum itu adalah senjata ampuh,
menaklukkan setiap hambatan,
didukung pemilihan kata yang santun,
namun tajam menghunjam sasaran....

senyum itu adalah senyum-mu Bunda...
adalah pelita dalam gulita badai amanah,
adalah tempat bersandar jiwa-jiwa lelah,
adalah tabik erat yang bimbing setiap langkah...

Selamat jalan Bunda,
Selamat berjuang di kampung halaman...
Kami pasti merindukan senyum-mu itu.

[untuk ibu Porman Romianna Manihuruk, saat melepas bunda kembali ke medan...]

Selasa, 22 Juni 2010

di kantor...

Bekerja akan menjadi optimal, jika dilakukan dengan hasrat yang kuat. Perlu semacam motivasi diri, dengan membisik-bisikkan kalimat juang dalam bilik hati. Banyak hal yang harus kita lakukan, dan yang sedang kita lakukan itu tak sebanding dengan beban tugas yang masih menumpuk, belum lagi potensi "badai" amanah lain yang siap menerjang kita, meluluh lantakkan seluruh waktu luang kita.

Di kantor, tempat di mana hampir sebagian besar nafas ini kita hembuskan, adalah genangan kawah "candra dimuka". Jika waktu yang ada hanya kita habiskan dengan hal-hal rutin saja, bisa jadi... kita menjadi robot kecil tanpa nyawa, berkeliaran dalam rongga sejarah, hanya sekedar mengisi jeda panjang antara kelahiran dan kematian, dengan nada dengung yang tidak bermakna. Kita menjadi bukan siapa-siapa.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Aku masih saja mencari-cari; tentunya aku mencari bahagia, namun dengan apa aku bisa menemukannya?

Sembari mencari tahu, ada banyak sarana yang telah Alloh sediakan di kantor ini... yang bisa menjadi sarana aku "berbenah" diri...

Ada majelis taklim As-Salam; ada room "ngaji kantor"; ada kajian Islam intensif; atau sekedar perbincangan dengan mereka yang terus berharap semua kata-kata itu berubah menjadi bermakna.

Wallohu a'lam.

Jumat, 07 Mei 2010

BU SRI DAN REMUNERASI....

Qur'an Surat Ali Imron ayat 26 dan 27:
"Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan(kekuasaan), Engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan (kekuasaan) dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

"Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."


Membaca status Facebook temen-temen di Keluarga Besar Kementerian Keuangan, khususnya temen-temen di DJP, mengingatkanku pada dua ayat di atas. Kebanyakan dari mereka bercerita tentang nasib bu Sri juga nasib mereka akan remunerasi yang akan ditinjau ulang...

Ayat ke 26 bercerita tentang Alloh sebagai Penguasa seluruh kekuasaan.. juga jabatan. Membaca ayat ini, jadi paham... apapun pilihan bu Sri, atau apapun maunya para anggota Dewan itu, tetap saja ujung2nya Alloh lah yang memutuskan. Mulianya seseorang itu bukan pada opini publik yang dikembangkan, melainkan ada pada kehendak Alloh semata; begitu pun hinanya seseorang, bukan karena fitnah media, bukan pula pada hasil voting, melainkan ada pada kekuasaan Alloh semata....

Tentang remunerasi, begitu gamblang diceritakan dalam ayat berikutnya. Bahwa Alloh lah Sang Pemberi Rezeki. Merasakan kembali substansi ayat ini, mestinya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Angsuran BRI yang belum beres, dan jika remunerasi dicabut tidak terbayang mengangsurnya... menjadi remeh saja, jika memang Alloh berkehendak. Apalah lagi yang perlu diresahkan, Alloh lah dzat yang maha memberi rezeki. Tugas kita hanyalah terus berusaha, ikhtiar dan melapangkan hati, menerima segala ketentuan Alloh. Tentang keadilan yang terasa dilecehkan, pun tak jadi masalah... jika kita pahami bahwa Alloh lah yang maha kuasa atas segalanya.

Keimanan memang kunci solusi segala masalah, demikian pula sebaliknya... hilangnya iman adalah pemicu segala masalah kita. Wallohu a'lam.

Senin, 03 Mei 2010

Laskar P2 Humas - Pasukan yang penuh senyuman -


Ketika menerima banyak keluhan dari beberapa teman, tentang suasana kerja yang tidak lagi menyenangkan, jadi terfikir... bagaimana dengan aku? Dari dulu kalimat ini yang selalu aku pakai "Lingkungan itu kita yang bikin... bukan sebaliknya". Berbekal pemikirian itu, maka apapun yang terjadi di lingkungan kerja kita, itu adalah buah dari kebahagian yang coba kita bangun. Kita sendiri yang menentukan, ingin seperti apa lingkungan kita ini. Hehe, kelewat "kepede-an" memang. Padahal dalam prakteknya, kita yang sering terseret oleh lingkungan kita. Walaupun demikian, cara berfikir di atas -paling tidak- bisa menghindarkan kita dari sikap "cepat menyalahkan pihak lain" atas ketidaknyamanan yang kita rasakan. Dan pada saat yang sama, menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap suasana kerja di kantor kita.

Aku sebagai PNS yang bahagia itu, tentu saja bekerja bersama orang-orang yang bahagia. Bersama LASKAR P2HUMAS, yang selalu berusaha tetap tersenyum. Karena tanpa senyum bagaimana mungkin kami menyapa masyarakat, dan terus berbagi aura positif, bahwa kami (DJP) memang terus berbenah, selalu menuju yang lebih baik. DJP MAJU PASTI!

Senin, 26 April 2010

DOA PAGI dan SEMANGAT PAGI..... DO'A SENJA juga tetap SEMANGAT PAGI....


Tradisi membaca do'a di awal hari, dan menjelang pulang adalah tradisi yang positif di kantor kami. Do'a pagi menjadi sarana yang tepat untuk meluruskan niat, agar bekerja menjadi bagian dari ibadah kita kepada Alloh; demikian pula do'a senja, adalah sarana yang tepat mengevaluasi gerak hati kita, agar kembali ke keluarga dengan berkah dari kerja yang benar, jujur dan amanah dalam jalankan setiap beban tugas.

Pekan ini bidang kami mendapat giliran membacakan do'a, ada usulan agar tidak nampak monoton, do'a dikemas dalam cara yang berbeda. Khawatirnya hanya menjadi semacam ritual yang dianggap angin lalu oleh para pegawai. Di hari Senin aku coba membacakan kisah sebelum bacakan do'a. Kisah yang aku pilih adalah kisah Rosululloh yang menemukan bangkai kambing, lalu beliau tawarkan ke para sahabat, dan mereka tak ada yang mau... lalu kata Rosul sesungguh dunia ini lebih hina di Mata Alloh dari pada hinanya bangkai kambing ini di mata kalian... dan dilanjutkan dengan do'a: "Ya Alloh jadikan dunia itu di genggaman tangan kami, dan jangan jadikan ia di dalam hati kami."

Di senja hari, aku coba angkat cerita, kisah nyata yang pernah ditulis di satu majalah tentang seorang lelaki yang bersepeda memboncengkan anaknya keliling Jakarta, untuk mengembalikan dompet yang ia temukan di pinggir jalan. Dan akhirnya ketemu, ketika sang pemilik dompet itu hendak berikan imbalan, lelaki itu menolaknya. Ia berkata, saya sedang mengajarkan anak saya... bagaimana ia harus mengembalikan hak orang lain; dan agar jangan sampai ada hak orang lain itu ada di kantong kita.

Dua kisah ini, adalah pesan tentang bagaimana Integritas itu dibangun. Dengan meluruskan niat dalam bekerja, juga bahwa apapun yang kita lakukan hari ini adalah investasi bagi anak-anak kita di kemudian hari.

Demikianlah, kami berharap pembacaan do'a ini menjadi bagian dari strategi perubahan yang coba terus kita bangun di instansi DJP tercinta ini. Mungkin dapat kita lanjutkan dengan Nilai2 Organisasi kita yang lain, setelah Integritas, ada Profesional, Inovasi juga Teamwork.

Ayuk... SEMANGAT PAGI!!

Selasa, 13 April 2010

AKU PETUGAS PAJAK; DAN AKU BUKAN KORUPTOR


Citra DJP terpuruk, banyak yang mulai pertanyakan statusku sebagai PNS yang Bahagia... masihkah? Jawabku tentu: Masih. Karena memang tidak ada yang perlu dirisaukan, toh aku bukan Gayus. Aku masih tetap berusaha seperti target karierku dulu...

Apalagi setelah mendapat petuah dari Kakanwil DJP Jakarta Khusus, tentang bagaimana semestinya kami bersikap, dalam filsafat jawanya yang kental disampaikan antara lain:
Ojo Dumeh (jangan mentang-mentang), Ojo Gumun (jangan heran), Ojo Kaget (Jangan kaget dan cepat panik), dan Ojo Lali (jangan lupa diri..)
juga disampaikan bahwa "Becik ketitik, olo ketoro" (Kebaikan itu terlihat, dan Keburukan akan terungkap)

Jadi walau banyak hujatan, walau banyak yang sarankan aku kurangi ke-pedean-ku mengenakan atribut2 sebagai orang pajak... tetap saja dengan bangga, aku katakan pada dunia: AKU PETUGAS PAJAK, DAN AKU BUKAN KORUPTOR.

Berharap tetap menjadi bagian dari solusi, paling tidak pertahankan niat/orientasi yang tepat dalam bekerja. Semoga badai cepat berlalu, "Ja'al Haqqu Wa Zahaqol Bathil" Nyalakan lilin, kegelapan akan sirna....

Sabtu, 13 Februari 2010

KERJA KERAS DAN DO'A


“Jak dan Pa Jak” datang berkunjung ke Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus.
Pada hari Senin (11/1) Kanwil DJP Jakarta Khusus mengadakan acara TASYAKURAN ATAS TERCAPAINYA TARGET PENERIMAAN PAJAK TAHUN 2009 DAN PERENCANAAN STRATEGI PENGAMANAN PENERIMAAN PAJAK TAHUN 2010 di Aula KPP PMA Dua. Acara tersebut dikemas dalam Tema “Jak dan Pa Jak”.

Diawali dengan perbincangan khas Jak dan Pa Jak, tentang Sekolah yang dibiayai oleh Pajak dan Keberhasilan mencapai target penerimaan pajak adalah karena peran serta seluruh pegawai DJP. Dilanjutkan dengan Do’a dan Lagu “Syukur” yang dinyanyikan oleh seluruh peserta, dengan diselingi lantunan puisi yang semakin membuat syahdu acara.

Dalam sambutan sekaligus arahannya, Kepala Kanwil DJP Jakarta Khusus, Herry Sumardjito menyampaikan ucapan syukur atas tercapainya target penerimaan pajak tahun 2009 di Kanwil Jakarta Khusus. Dalam kesempatan itu, Kakanwil juga menyampaikan bahwa keberhasilan dalam mencapai target penerimaan pajak tahun 2009 ini adalah keberhasilan semua KPP dan Kanwil secara nasional, baik KPP atau Kanwil yang mampu mencapai target penerimaan bahkan surplus maupun yang tidak berhasil mencapai target penerimaan. Hal ini karena pada dasarnya semuanya telah memberikan kontribusi yang besar terhadap penerimaan pajak baik secara nasional, di Kanwil maupun di KPP. Begitu juga seluruh bidang dan seksi di Kanwil maupun KPP, semua memegang peran yang sama besar dalam membantu mencapai target penerimaan pajak. Target penerimaan pajak tahun 2009 adalah sebesar Rp 498,6 Triliun. Target penerimaan pajak untuk tahun 2010 naik menjadi Rp 611 Triliun. Target tersebut mengalami kenaikan sebesar kurang lebih 23% (dua puluh tiga persen).

Lebih lanjut, Herry Sumardjito menyampaikan bahwa berbagai cara-cara dan langkah-langkah memang perlu dilakukan oleh seluruh Kepala KPP dan Kepala Kanwil dalam rangka mencapai target penerimaan pajak. Namun apapun usaha kita, tanpa ridho dari Allah maka tidak akan tercapai. Adapun contoh cara tersebut adalah dari pengalaman dalam mencapai target penerimaan tahun 2009 di lingkungan Kanwil Jakarta Khusus, yaitu berupa Metodologi Ilmiah dan Metodologi Religius dengan Do’a. Upaya dengan metodologi Religius dengan Do’a oleh KPP Badora Satu dlm rangka mencapai target penerimaan pajak tahun 2009 ternyata berhasil. Walaupun pada awalnya mustahil bahwa dalam jangka waktu sangat sedikit atau kepepet dapat mencapai target penerimaan pajak, namun dengan kekuatan do’a Allah memberikan kemudahan jalan sehingga semua tujuan dan target dapat tercapai. Sehingga total peran-peran tersebut diatas dalam rangka mencapai target penerimaan pajak tahun 2010 adalah sebesar 100% (seratus persen).

Sebelum acara diakhiri, dilakukan penyerahan penghargaan atas upaya seluruh KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus dalam menunjang keberhasilan pencapaian penerimaan pajak Kanwil DJP Jakarta Khusus, yang diserahkan oleh Kepala Kanwil DJP Jakarta Khusus. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih atas peran aktif seluruh pegawai di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus dalam mencapai target penerimaan pajak.

Jumat, 29 Januari 2010

pantun pajak dari temen2 FB

Nugroho Putu Warsito: Temen2, ada yang punya ide pantun ttg pajak?? Bagi dong....

U'ang Puaduss :bji salak hitam warnanya, sama nasi bukan pasangannya...
bayar pajak semampunya, awasi saja penggunaannya.....

Dhimas Wisnu Mahendra :saya teh ada ide, tapi mungkin nantilah insya Allah setelah shalat jum'at ya hehehehe ;p~

Utin Dina Anggraini :buah salak keras kulitnya, kalau dimakan manis rasanya....
bayar pajak puas rasanya, kalau dirasakan rakyat seluruhnya...(hehehe...asal2an nih mas)

Sriyanto Slamet :pagi-pagi berolah raga
kesandung batu sakit rasanya...
kalau pingin pajak merata
mas putu harus jadi Dirjend-nya...

Christina Kwok : pantun nya keren"..

Dhimas Wisnu Mahendra: berhubung belom adzan, nyolong2 ikut pantunan ;p
bersepeda sehat mengayuh pelan,
jaga jarak yang aman dengan depan.
sejahtera rakyat berkehidupan,
jika pajak yang menjadi tumpuan.

Hariyati Kurniadi: Orang Bijak Taat Pajak
Hehehehehehheheeheee...

Lusiana Etty Susanti: nglanjutin mb hariayati....orang tua bijak pilih menantu orang pajak...hahaha

Lilis Arifin : buah salak buah pepaya,jangan lupa ya bayar pajak hahahahahahahaha......

Nana Sumarna : Makan rujak pake ketupat....Bayar pajak.....jangan lupa zakat....

Yono Sanyo : pajak...ga' masalah...

Nugroho Putu Warsito: To all: luar biasa!!!! Mohon ijin pantun2nya aku baca di sosialisasi ya... Kecuali yang ada "pak Putu jadi dirjen..." Hihihi

Yuda Yulianto : lagi ngupil disiram rujak, gimana mo adil kl ga bayar pajak....

Nugroho Putu Warsito : Yuda ok juga... Tapi kata ngup** itu kena sensor; kurang layak...

Delpurnomo Il Pinturicchio : ke grand mall beli rujak,tukang rujak kepalanya botak..
masa kita udah bayar pajak tapi jalan raya masih rusak...

Nugroho Putu Warsito: Pantun pak purnomo tidak pas dibaca di sosialisasi pajak, cocoknya buat demo ke pemda... Heehhehe...

Teluk Waworada;


Angin, riak ombak, dan seonggok cinta di tepian pantai;
pada bisikannya, tak kuasa aku abaikan,
begitu dekat di telinga...
dan butiran pasir memeluk kulit pipi,
geletar denyut benak...
berdetak bersama kerjap sayap-sayap burung laut

bukit, pepohonan dan teluk Waworada...
cepat merebut hati..

Selasa, 13 Oktober 2009

Target Karier ku.

Awalnya membaca blog temen-temen. Rasanya menyenangkan, melihat kehidupan mereka. Ada saja yang mereka ceritakan, dan kebanyakan menjadi satu hal yang “menarik”. Mungkin karena kehidupan mereka yang sudah menarik. Bagaimana dengan aku? Hehe, cuman Pegawai Negeri Sipil. Jika mau jadi pejabat, rasanya masih terlalu jauh. Ber-politik? Hehe, kudu netral kan?? Menjadi seniman?? Hehe, tanggung, yang ada hanya air sen* eh.. maaf!
Sempet sesaat, berbincang dengan diri. Berfikir mendalam tentang apa yang sebenarnya mau aku raih. Akhirnya, ketemu… satu kata: Bahagia.
Hmm… menjadi PNS yang Bahagia. Menjadi satu target karierku, bukan sekedar menjadi pejabat eselon… bukan sekedar banyak uang… tapi jauh lebih keren dari semua itu, “menjadi PNS yang Bahagia”.
Aku mulai tugas suci ini, dengan menebar senyuman di pagi hari, menebar kebahagiaan di seluruh hari. Mengisi penuh lumbung jiwa dengan kebahagiaan, hingga tak ada tempat untuk kesedihan.

Kamis, 08 Oktober 2009

MASIH TENTANG MEMBERI LEBIH.....

Masih inget, Aa' Gym pernah bilang: ada tiga jenis manusia,
1. Pahlawan; selalu berusaha memberi lebih banyak dari yang dia terima
2. Pekerja; selalu berusaha memberi sama banyak dengan yang diterima
3. Penjahat; selalu berusaha menerima lebih banyak dari yang dia beri....

Kita butuh banyak Pahlawan. Karena begitu banyak yang harus diselesaikan. Reformasi birokrasi contohnya.... hampir setiap hari di"kumandangkan" namun ujung-ujungnya kita masih terjebak pada apa yang nanti kita dapat. Kita lupa tujuan besar perubahan itu adalah kebajikan yang mengejawantah di setiap langkah kita. hehehe... jadi dalem banget ya.

udah ah, kita coba lihat dengan lebih sederhana saja...
selama kita masih sibuk berfikir apa yang akan kita dapatkan, sesungguhnya kita baru sampai pada level pekerja. Yang akhirnya akan terasa berat untuk dapat melakukan "perubahan-perubahan" besar. Karena posisi kita sekarang ini dibawah titik nadir "kepantasan" jadi butuh banyak pengorbanan..... jika kita hanya mau lakukan sesuatu sekedar sama dengan apa yang kita dapat, maka tidak banyak yang bisa kita lakukan.

Jadi, ya.. kita memang butuh lebih banyak "pahlawan", yang rajin berfikir: apa yang bisa saya berikan.... bukan apa yang akan saya terima.

Mari... kita berusaha berikan lebih untuk bangsa ini, dari yang sudah bangsa ini berikan untuk kita. Wayah, gaya banget ya... Semoga Alloh selalu menjaga gerak hati dan Amal kita. Amien...

Selasa, 06 Oktober 2009

MEMBERI LEBIH DARI SEKEDAR MELAYANI;


Melayani Wajib Pajak, berbeda dengan melayani pembeli di sebuah toko. Karena dalam pelayanan perpajakan, ada tuntutan penegakan hukum di luar tuntutan kepuasan Wajib Pajak. Berbicara tentang pelayanan, Kanwil DJP Jakarta Khusus memilih kata “empati”. Memberikan “rasa” di setiap pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak. Memberikan pelayanan sepenuh hati. Demikian halnya, saat berbicara tentang penegakan hukum, Kanwil DJP Jakarta Khusus memilih kata “tegas”. Karena ketegasan yang didasari kepastian hukum adalah satu hal yang diharapkan Wajib Pajak. Dan tentu, dibutuhkan pula sikap "profesional" dari setiap aparat pajak dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Dalam usaha mempertemukan tuntutan kepuasan Wajib Pajak di satu sisi, dan tuntutan penegakan hukum di sisi lain, Kanwil DJP Jakarta Khusus merasa perlu untuk lebih dekat dengan Wajib Pajak, sehingga terjalin komunikasi yang efektif. Karena dari komunikasi tersebut, dapat membuahkan saling pengertian dan pemahaman antara Aparat Pajak dan Wajib Pajak. Pemahaman Aparat Pajak tentang perasaan Wajib Pajak yang “bete” dan kesal harus antri dan merasa dipersulit dalam menunaikan kewajiban perpajakannya, mesti sejalan dengan pemahaman Wajib Pajak terhadap tuntutan Aparat Pajak dalam menjalankan tugas menegakkan peraturan perpajakan yang berlaku.

Dalam membangun komunikasi tersebut, Kanwil DJP Jakarta Khusus melaksanakan beberapa kegiatan, antara lain:
1. Sosialisasi peraturan perpajakan terbaru kepada Wajib Pajak;
2. Sosialisasi tentang Hak dan Kewajiban Wajib Pajak kepada masyarakat yang belum ber-NPWP;
3. Kampanye Simpatik; yaitu kegiatan untuk menyapa masyarakat di tempat-tempat keramaian dengan membagikan booklet, leaflet, dan informasi-informasi terkait dengan perpajakan;
4. Menyapa masyarakat pada saat-saat tertentu, contoh saat mudik lebaran, Kanwil DJP Jakarta Khusus membagikan bingkisan dengan dilengkapi informasi-informasi perpajakan.

Demikianlah, berawal dari semangat tidak sekedar melayani, kami berusaha memberi lebih.


Seksi Humas Kanwil DJP Jakarta Khusus.

Jumat, 02 Oktober 2009

oleh-oleh dari pelatihan JRP


Alhamdulillah, dapat kesempatan belajar di JRP. Terimakasih Pemerintah....

Demikian yang saya sampaikan pada "Evaluasi Akhir" pelatihan itu:

Assalamu'alaikum, Selamat Sore, Salam Sejahtera untuk kita semua.
...perkenalkan, nama saya: Nugroho Putu Warsito. Panggilan saya Putu. Putu seperti nama Bali, padahal saya orang Jawa Aseli. Di Jawa, Putu adalah cucu. Saya Nugroho cucu-nya mbah Warsito.

Saya sudah 14 tahun mengabdi di DJP. Namun berbeda dengan rekan-rekan sebelumnya, karena saya tidak berdinas di seksi Pelayanan, melainkan pelaksana di seksi Hubungan Masyarakat di Kanwil DJP Jakarta Khusus. Adapun Job Deskripsi saya adalah:
1. Administrasi kegiatan2 kehumasan;
2. Menjalin kerja sama dengan pihak ke tiga untuk meningkatkan citra DJP;
3. Menjawab pertanyaan Wajib Pajak melalui surat.

Terkait dengan poin ke-dua, perlu saya sampaikan bahwa DJP memang sudah berubah.
Sesuai dengan 3 Strategi DJP tahun 2009, adalah:
1. Peningkatan SDM
2. Peningkatan kualitas Pelayanan
3. Law Enforcement.

paling tidak, berdasarkan poin pertama dan kedua inilah, kami diikutsertakan dalam pelatihan ini. Dan hasilnya.....
Jika boleh saya sampaikan komentar saya tentang 2 hari ini, dalam 2 kata... yaitu: Luar Biasa.

.........

ketika Panelis bertanya tentang keinginan, saya jawab:
"saya ingin menjadi PNS yang bahagia"

(begitulah... selanjutnya saya agak lupa. Mungkin di lain kesempatan, akan saya lengkapi. Yang penting sebagian dari fragmen hari itu telah saya abadikan di sini. Mohon masukannya.... bagi teman-teman yang kebetulan ada di sana pada hari itu)

Kamis, 10 September 2009

ORIENTASI KERJA;

Pagi ini, aku dan istri berbincang dan berfikir secara mendalam tentang orientasi dalam bekerja.
Bisa saja alasan kita bekerja adalah sebagai berikut:
1. Demi aktualisasi diri; dalam rangka membangun mitos diri, bekerja keras agar dianggap “ada” oleh dunia;
2. Semata karena ibadah, karena Kerja adalah bentuk nyata dari ibadah;
3. Menjalankan tugas sebagai “pencari nafkah” keluarga;
4. Hanya agar dapat gaji, dan kenaikan jabatan yang menarik….
5. Malu kalo tidak kerja;

Entahlah, namun terfikir jika alasan kita berkerja ini semata “kepentingan pribadi” maka ini bisa menjadi motif untuk mendistorsi kualitas pekerjaan. Seseorang berlaku “curang” biasanya diawali dengan orientasi yang keliru. Jika dia bekerja semata agar kepentingan pribadinya terwujud, maka dia cenderung mengabaikan kepentingan orang lain, dan sangat mungkin mengabaikan aturan-aturan yang ada.
Teringat Lagu-nya Iwan Fals,
Seperti Matahari
Iwan Fals ( Album Suara Hati 2002 )


Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya didalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Keinginan adalah sumber penderitaan

Rabu, 09 September 2009

Persembahan ntuk Pak Hario Damar (Badora Satu ke TTKI)

(lagu “Dengarkan Curhatku” by Vierra)
“Dengarkan curhatku tentang dirinya
Betapa anehnya tingkah lakunya”

(-Puisi- ibu Harni)
“ Kita bersama memang tidak terlalu lama,
namun cukup untuk belajar...
bagaimana perlakukan amanah ini;
sehingga kadang, rapat jauh menembus jam kerja kami...”

(lagu” Hancur Hatiku” by Olga)
Hancur... hancur... hancur hatiku 2X
Engkau pergi tinggalkan aku, hancur hatiku

(-Puisi- pak Primbang)
“ Sejenak bersama,
rasanya tersiram oleh padatnya makna
bagaimana tidak, jika setiap detik menjadi penuh beda;
bukan sekedar penerimaan, melainkan terus gali potensi
dan jangan pakai cara biasa....”

(lagu .........)
“Bapak2, ibu2, siapa yang mau ikut TTKI
Janganlah malu2 daftar saja padanya...
Pasti Bapak terima dengan tangan terbuka...”

(dibaca oleh dua Sekretaris: Iyan dan Tari)
-Iyan-
“ Mencoba membaca dari yang Bapak bawa,
tersadar bahwa mesti jadi yang terbaik
dalam setiap tugas yang kami emban...”
-Tari-
“ Kadang nampak aneh, padahal itu inovasi;
kadang terasa menyebalkan, padahal itu sapaan untuk maju...”

-bersama-sama-
Selamat jalan Bapak, terima kasih atas hari-hari penuh makna itu....

untuk Pak Jhon Hutagaol

(mbak Ika)
10 bulan berlalu,
Tak terasa ratusan rapat telah terlewati....

(mbak Nia)
Time is profile,
terasa menyesakkan...
Harap2 cemas di sepanjang hari;
Seperti pil pahit yang terpaksa kami telan
Tidak nyaman memang, namun....
Dalam 2 setengah bulan, kami beranjak dari masa kritis
Hingga tercapainya target penerimaan.

(mbak Ika)
Sejenak bersama,
rasanya tersiram oleh padatnya makna
bagaimana tidak, jika setiap detik menjadi penuh beda;
bukan sekedar penerimaan, melainkan terus gali potensi
dan jangan pakai cara biasa....

(mbak Nia)
Jujur saja, kami “capek”
mengikuti irama yang Bapak mainkan
Seakan diajaknya kami melompat, sementara kaki kami masih tertatih.....

(mbak Ika)
Hingga hari ini,
Bapak beranjak, menghampiri tantangan amanah lain di tempat khusus
dan di sini, dalam hati kami... masih tertinggal kata-kata Bapak
Kadang nampak aneh, padahal mungkin itu memang inovasi;
kadang terasa menyebalkan, padahal itu sapaan untuk maju...

(bareng2)
Selamat Jalan Profesor, Terima kasih atas hari2 penuh makna itu....

(ditulis untuk acara perpisahan pak Jhon Hutagaol; KPP Pratama Jakarta Tebet - KPP Penanaman Modal Asing Satu 2009)

Kamis, 03 September 2009

Bunda Jetty....

Tidak terasa, waktu menggilas kita. Bunda harus beralih peran, tugas lain menunggu.
Beberapa tahun bersama Bunda dalam satu beban amanah… di kantor, aku belajar banyak hal. Terutama tentang bagaimana memimpin dengan cara yang “cair”, informal namun tetap tegas. Hal-hal penting, menjadi nampak mudah saat kita rapatkan dalam format berdiri di depan meja kerja, sambil sesekali berbincang tentang sinetron, dan gosip artis terkini….

Bunda mengerti betul bagaimana membeli “perhatian” kami, dengan perhatian Bunda yang begitu hangat ke kami. Sesekali Bunda menghampiri meja kerja masing-masing dari kami, lalu menanyakan tentang keadaan kami –pribadi-, keluarga… lalu terkadang secara tiba-tiba ada “bingkisan” untuk kami.

Bunda, terima kasih…
Telah berbagi cinta dalam setiap denyut nadi kerja kita. Menjadi hari-hari kita berlalu dengan penuh makna.

Selamat memasuki hari purna bhakti, Bunda Jetty!
Jangan delete nama2 kami dalam hati Bunda.
We love u.

*
Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta

Reff :
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama

Back to *, Reff

Walau tak dapat selalu ku ungkapkan
Kata cintaku 'tuk mama
Namun dengarlah hatiku berkata
Sungguh kusayang padamu mama

Back to Reff

Oh.................
Back to Reff 2x

Lagu cintaku untuk mama...

Sabtu, 29 Agustus 2009

Bahan Kultum di DJP.

“Semua bisa saja terjadi....
Siapa bilang kita pasti bertemu dengan 1 Syawal Tahun ini...??
Siapa pula yang sanggup menjamin bahwa kita pasti bisa merasakan Lebaran Tahun ini??”

Tidak ada;
Karena Alloh yang Maha Berkuasa,
Sedangkan hidup kita hanyalah rangkaian waktu yang setiap detiknya berguguran tanpa pernah kita bisa menghentikannya.....

Tentang bagaimana mensikapi waktu ini, Alloh berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Semua orang punya masa lalu; begitu pula kita.
Tugas kita adalah membaca, mempelajari masa lalu kita, untuk rencanakan hari esok yang lebih baik..
Bukan sekedar, menyalahkan, menyesali, tanpa pernah berusaha bangkit;
”daripada sibuk memaki kegelapan, mengapa kita tidak coba menyalakan lampu?”

Dengan semangat itu pula, DJP menyusun Nilai Organisasi dan Kode Etik sebagi pijakan dalam berbenah.

Berbicara tentang Nilai Organisasi DJP, yaitu: Integritas, Profesional, Inovatif dan Teamwork; jadi teringat Firman Alloh dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1-3 :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ketika Alloh berfirman tentang waktu; Dia lanjutkan dengan kalimat “sesungguhnya Manusia dalam kerugian”, karena waktu terus bergerak, tak dapat diulang, jadi siapapun pasti akan merugi, kecuali mereka yang memiliki 3 kriteria:

A. Orang-orang yang beriman; adalah orang-orang yang memiliki orientasi dan motivasi hidup yang benar. Meyakini al-Haq dengan kesungguhan hati. Mereka memiliki integritas moral yang tinggi;

B. Orang-orang yang beramal sholeh; adalah orang-orang yang professional, cakap di bidang keahliannya, mau bekerja keras dalam segala bentuk kebaikan, dan mampu ber-inovasi sehingga kualitas kerja kebaikan itu menjadi selalu lebih baik dari hari ke hari. Dan dalam konteks bekerja, profesional akan membuat kita mampu menyelesaikan pekerja dengan lebih cepat, sehingga lebih banyak lagi pekerja serta amal kebaikan yang dapat kita kerjakan;

C. dan Orang-orang yang mau saling berbagi nasehat dalam:
1. Kebenaran: nasehat atas substansi
2. Kesabaran: nasehat atas cara
3. Cinta dan Sayang: nasehat atas kemasan (QS. Al-Balad: 17)
Jika kita rajin untuk saling bernasehat dalam kebenaran, kesabaran, dan cinta, maka tak akan ada ”benturan” yang menyakitkan itu. Kita bisa hidup dalam beda namun tetap tenang dan santun; dalam satu teamwork yang solid;

Semangat kita: semangat mencari solusi bukan ambisi membangun imej pribadi masing-masing.....

QS: Al-’Ashr Corporate Value DJP:
1. Beriman --> Integritas
2. Beramal Sholeh --> Profesional, Inovasi
3. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran --> Teamwork

Menjalankan Nilai-nilai Organisasi DJP sama dengan menjalankan Perintah Alloh... sama dengan ibadah.

Ayo terus benahi DJP ini, dengan semangat Lillah, Ma’allohi, wa Ilallohi....

Allohu Akbar!