Sabtu, 29 Agustus 2009

Bahan Kultum di DJP.

“Semua bisa saja terjadi....
Siapa bilang kita pasti bertemu dengan 1 Syawal Tahun ini...??
Siapa pula yang sanggup menjamin bahwa kita pasti bisa merasakan Lebaran Tahun ini??”

Tidak ada;
Karena Alloh yang Maha Berkuasa,
Sedangkan hidup kita hanyalah rangkaian waktu yang setiap detiknya berguguran tanpa pernah kita bisa menghentikannya.....

Tentang bagaimana mensikapi waktu ini, Alloh berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Semua orang punya masa lalu; begitu pula kita.
Tugas kita adalah membaca, mempelajari masa lalu kita, untuk rencanakan hari esok yang lebih baik..
Bukan sekedar, menyalahkan, menyesali, tanpa pernah berusaha bangkit;
”daripada sibuk memaki kegelapan, mengapa kita tidak coba menyalakan lampu?”

Dengan semangat itu pula, DJP menyusun Nilai Organisasi dan Kode Etik sebagi pijakan dalam berbenah.

Berbicara tentang Nilai Organisasi DJP, yaitu: Integritas, Profesional, Inovatif dan Teamwork; jadi teringat Firman Alloh dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1-3 :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ketika Alloh berfirman tentang waktu; Dia lanjutkan dengan kalimat “sesungguhnya Manusia dalam kerugian”, karena waktu terus bergerak, tak dapat diulang, jadi siapapun pasti akan merugi, kecuali mereka yang memiliki 3 kriteria:

A. Orang-orang yang beriman; adalah orang-orang yang memiliki orientasi dan motivasi hidup yang benar. Meyakini al-Haq dengan kesungguhan hati. Mereka memiliki integritas moral yang tinggi;

B. Orang-orang yang beramal sholeh; adalah orang-orang yang professional, cakap di bidang keahliannya, mau bekerja keras dalam segala bentuk kebaikan, dan mampu ber-inovasi sehingga kualitas kerja kebaikan itu menjadi selalu lebih baik dari hari ke hari. Dan dalam konteks bekerja, profesional akan membuat kita mampu menyelesaikan pekerja dengan lebih cepat, sehingga lebih banyak lagi pekerja serta amal kebaikan yang dapat kita kerjakan;

C. dan Orang-orang yang mau saling berbagi nasehat dalam:
1. Kebenaran: nasehat atas substansi
2. Kesabaran: nasehat atas cara
3. Cinta dan Sayang: nasehat atas kemasan (QS. Al-Balad: 17)
Jika kita rajin untuk saling bernasehat dalam kebenaran, kesabaran, dan cinta, maka tak akan ada ”benturan” yang menyakitkan itu. Kita bisa hidup dalam beda namun tetap tenang dan santun; dalam satu teamwork yang solid;

Semangat kita: semangat mencari solusi bukan ambisi membangun imej pribadi masing-masing.....

QS: Al-’Ashr Corporate Value DJP:
1. Beriman --> Integritas
2. Beramal Sholeh --> Profesional, Inovasi
3. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran --> Teamwork

Menjalankan Nilai-nilai Organisasi DJP sama dengan menjalankan Perintah Alloh... sama dengan ibadah.

Ayo terus benahi DJP ini, dengan semangat Lillah, Ma’allohi, wa Ilallohi....

Allohu Akbar!

Minggu, 16 Agustus 2009

di gerbang kampus STAN;

Aku, bersama perabotan-perabotan baru dan mengkilat
datang menghadapMu, Tuhan
ketika semua pertanyakan ketulusan hati kami
ya, kami jadi benar-benar takut
seolah kutuk hendak menerjang, merobek kepercayaan kami
terhadap diri kami sendiri
atau
putuskan tali antaraMu dan kami..
o, kami benar-benar takut

Aku, bersama perabotan-perabotan baru dan mengkilat
datang menghadapMu, Tuhan
ketika perabotan antik pendahulu kami itu…
bahkan berusaha meyakinkan dunia
bahwa memang ada setan di bilik jiwa kami
lalu kami harus bagaimana??

Jadi hari ini,
Aku, bersama perabotan-perabotan baru dan mengkilat
datang menghadapMu, Tuhan
dan kami benar-benar takut.

(untuk aku dan teman-teman sekampusku STAN Prodip keuangan…sekolah para calon perabotan negara; ditulis tanggal 14 Agustus 1994 di jurang mangu timur)

ngantor;

berlari menuju sumber cahya,
adalah bergegas pulang…
karena akan ada secangkir kopi dan senyuman,
juga tangan kecil bocah yang bergelanyutan di lengan….

dan angin malam beringgas mengoyak isi kepala,
ketika betara kala menelanku dalam kerja…
dalam janji-janji yang bergandengan memanjang
penuhi agendaku seharian

pulang adalah impian…
berhiaskan jeritan manja anak dan
hangatnya genggam… cium tangan sang kekasih

sedang kerja adalah tidur
tidur kering tanpa mimpi,
begitupun kerja tanpa bayangan untuk pulang
adalah gersang!

(aku masih di sini, melirik agenda… sebuah janji selepas kantor menanti; padahal anak di rumah pasti sudah mandi, dan wangi minyak telon dan bedaknya terasa di sini…..)

Jakarta, Rajab 1423H

Selasa, 14 Juli 2009

NOKE DJP dan Tahapan Budaya

Saya tidak cukup paham apa sebenarnya latar belakang lahirnya NOKE DJP (Nilai-nilai Organisasi dan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak), namun saya coba melihatnya sebagai satu proses perubahan, sebagaimana tahapan budaya. Dalam buku Strategi Budaya tulisan Prof. Dr. CA. Van Peursen, dijelaskan tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mitos; manusia sebagai subjek berada dalam dunia sebagai objek.
2. Ontologis; manusia sebagai subjek berjarak dengan dunia sebagai objek.
3. Fungsional; manusia sebagai subjek dan dunia sebagai objek saling terbuka menjalin satu hubungan.

Kondisi tempo doeloe, yang rekan-rekan sering bilang "jaman Jahiliyah", saya posisikan sebagai tahapan pertama, mitos. Bisa pula kita sebut sebagai "tesis".

Fiskus berada dalam sistem yang sulit untuk beranjak. Walaupun ada beberapa rekan yang mencoba memberi jarak pada sistem itu, walau akhirnya harus "dikucilkan" atau bahkan harus keluar dari DJP. Bahkan mereka harus rela mengganti "ikatan dinas"-nya, ini mungkin masuk dalam tahapan Ontologis. Ini adalah "antitesis".

Sejalan dengan reformasi, kondisi mendukung. Arus perubahan semakin nampak, lahirlah: NOKE. NOKE menjadi pijakan/acuan perubahan tersebut. Semestinya, pada tahapan ini, kita membuka diri. Seperti pada tahapan budaya yang terakhir: Fungsional. Berbenah diri, namun harus tetap beranjak dari pemahaman bahwa kita adalah manusia yang mau tidak mau punya masa lalu. Menjadi sintesa; membedah kondisi diri dengan pisau dingin perubahan. Selalu menggali potensi kebaikan pada masing-masing fungsi, dengan tetap berbekal "kesabaran" untuk selalu memaklumi keterbatasan kita.

Entahlah....

Senin, 06 Juli 2009

menyapa dan tersenyum di pagi hari...

Datang pagi, menyapa rekan2 satpam... lalu temen2 CS, OB... juga temen seperjuangan di kantor; pastikan sapaan itu ditambah senyuman... dan biarkan cahya mentari dan senyum lebar kita berkoalisi sebagai lukisan pagi yang berseri..seri.

Pastikan juga, ada cinta di setiap langkah kita; cintalah yang mendorong semua keindahan itu lahir...

Mengapa menyapa dan tersenyum di pagi hari begitu penting? Karena nanti, sepanjang hari ini, bisa jadi ada benturan, ada tekanan pekerjaan... ada duka, ada kesedihan yang dipaksakan kita untuk ikut merasainya... Jadi bekal sapaan dan senyuman pagi ini adalah energi kita untuk jalani hari ini, sepanjang hari ini.

Dan pagi menyentuh hati,
lewat mimpi yang berakhir dengan kuncup bunga
semua memenuhi rongga dada
ada kerinduan yang lirih bernyanyi,
ada cinta yang berdendang,
ada senyum yang kelewat indah....
ada kedukaan yang penat,
dan segala terjaga dalam pagi yang bening.

Minggu, 28 Juni 2009

Al-'Ashr dan NOKE;

Hari-hari yang aku impikan adalah hari kerja yang menyenangkan, senyum, canda...kalaulah memang ada perbedaan, janganlah ada benturan yang menyakitkan; kemas-lah ia dalam canda yang penuh cinta. Asyik-asyik aja lah….

Jadi ingat, pesan Alloh dalam surah al-Ashr:
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ketika Alloh berfirman tentang waktu; Dia lanjutkan dengan kalimat “sesungguhnya Manusia dalam kerugian”, karena waktu terus bergerak, tak dapat diulang, jadi siapapun pasti akan merugi, kecuali mereka yang memiliki 3 kriteria:

A. Orang-orang yang beriman; adalah orang-orang yang memiliki orientasi dan motivasi hidup yang benar. Meyakini al-Haq dengan kesungguhan hati. Mereka memiliki integritas moral yang tinggi;

B. Orang-orang yang beramal sholeh; adalah orang-orang yang professional, cakap di bidang keahliannya, mau bekerja keras dalam segala bentuk kebaikan, dan mampu ber-inovasi sehingga kualitas kerja kebaikan itu menjadi selalu lebih baik dari hari ke hari;

C. dan Orang-orang yang mau saling berbagi nasehat dalam:
1. Kebenaran: nasehat atas substansi
2. Kesabaran: nasehat atas cara
3. Cinta dan Sayang: nasehat atas kemasan (QS. Al-Balad: 17)
Jika kita rajin untuk saling bernasehat dalam kebenaran, kesabaran, dan cinta, maka tak akan ada ”benturan” yang menyakitkan itu. Kita bisa hidup dalam beda namun tetap tenang dan santun; dalam satu teamwork yang solid;

Semangat kita: semangat mencari solusi bukan ambisi membangun imej pribadi masing-masing.....

QS: Al-’Ashr Corporate Value DJP:
1. Beriman = Integritas
2. Beramal Sholeh = Profesional, Inovasi
3. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran = Teamwork

value: teamwork..


Salah satu corporate value DJP adalah teamwork;

kata teamwork di telingaku mirip2 bunyinya dengan komposisi lagu,
ada irama konstan, macam bas atau perkusi yang rapih.....
tapi ada pula lengkingan gitar melodi yang merobek keheningan....

di ruangan kantor-ku, memang seperti itu petanya...
ada yang adem, konstan, terasa nyaman bila ia ada...
ada yang penuh inovasi namun serupa percikan2
ada yang koordinatif, -semacam penghubung untuk setiap ruas2 fungsi menejemen-

hmmm, aku jadi apa ya?
percikan, lengkingan, namun mungkin kurang padu dengan nada dasar "kerja" dalam team-ku
hehehe....
penggangu yang aneh;

kepada teman2-ku, yang selalu membuat hari-hari kerjaku menjadi "istimewa"
kuucap terima kasih dan maaf.

yang kulakukan selalu tak sepadan dengan yang telah kalian lakukan untuk-ku....

Laskar P2 Humas..


selalu saja ada cinta,
entah di genangan waktu yang mana....
Awalnya ingin seperti pesan Khalil Gibran yang dinyanyikan oleh Kla Project, ....bekerja dengan cinta.... maka yang terlahir adalah bangunan indah dari "perhatian, kerja sama, saling melindungi.." di ruangan kerja kami -bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat..

perpaduan kami memang indah,
- ada mas Heri -staf pelaksana senior- yang mumpuni di pekerjaan, gabungan antara pemimpin, seniman... dengan bumbu jutek, tegas dan inspiratif...
- ada mas Solihin, mas Haji yang ramah, pakar komunikasi yang ngademin, aktivis dakwah yang membawa nilai2 keshalehan cocok seperti namanya...
- ada mbak Anis , cool, tapi tetap tangguh menghadapi badai macam apapun dari murka atasan... pintar memasak... jago mengkombinasikan keindahan dari rasa, warna, bentuk dan kemasan..
- ada dik Rupika, adik bungsu kami, ruh-nya bidang p2humas, punya imajinasi dan apresiasi seni yang tinggi, jago baca... namun tetap cekatan di acara2 penting...

lengkaplah sudah... jika ada aku, pakar pekerjaan2 fisik... pengganggu yang usil, berisik dan aneh... hehehehe...

(maaf, ayah2 dan bunda kasi belum ikut dikomentarin.. takut salah; ntar grading deh taruhannya..)

Mulai Hidup...

Aku mulai bekerja. Membangun mimpiku jadi nyata. Aku menikahi seorang wanita. Membangun sebuah rumah. Dan dari rumah inilah aku letakkan pondasi untuk bangunan yang lebih besar. Sebuah bangunan yang kususun dari batu bata kepercayaan, semen cinta, pasir saling menghargai, dan kerangka besi iman dan keyakinan.

Di rumah inilah aku belajar demokrasi, belajar mendelegasikan tugas, belajar mendengarkan, belajar mengerti isi hati, belajar menghargai, belajar dihargai, belajar untuk hidup, belajar membuat hidup menjadi lebih hidup. Rumah ini aku jadikan kampusku. Dengan istri, anak, pembantu, lantai kotor, meja tamu, vas bunga retak, atap bocor, kunci pintu macet…. sebagai para dosenku. Dan aku-lah mahasiswanya.

Di sini aku juga menanam benih-benih mimpi baru. Yang aku tanam dalam hati istriku, anakku, dan dalam hatiku. Di kemudian hari, akan aku panen, dengan mewujudkannya dalam kenyataan. Dan aku menikmati siklus mimpi ini.